Arsip

Archive for Juli, 2016

TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disolehBenjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.usun

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, sepertipengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, sepertiminat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

Domain Kognitif[sunting | sunting sumber]

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

Pengetahuan (Knowledge)[sunting | sunting sumber]

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.

Pemahaman (Comprehension)[sunting | sunting sumber]

Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan utama

  • Terjemahan
  • Pemaknaan
  • Ekstrapolasi

Pertanyaan seperti: Membandingkan manfaat mengkonsumsi apel dan jeruk terhadap kesehatan

Aplikasi (Application)[sunting | sunting sumber]

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

Analisis (Analysis)[sunting | sunting sumber]

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

Sintesis (Synthesis)[sunting | sunting sumber]

Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

Evaluasi (Evaluation)[sunting | sunting sumber]

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

Domain Afektif[sunting | sunting sumber]

Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

Penerimaan (Receiving/Attending)[sunting | sunting sumber]

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

Tanggapan (Responding)[sunting | sunting sumber]

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

Penghargaan (Valuing)[sunting | sunting sumber]

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

Pengorganisasian (Organization)[sunting | sunting sumber]

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)[sunting | sunting sumber]

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

Domain Psikomotor[sunting | sunting sumber]

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

Persepsi (Perception)[sunting | sunting sumber]

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

Kesiapan (Set)[sunting | sunting sumber]

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

Guided Response (Respon Terpimpin)[sunting | sunting sumber]

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

Mekanisme (Mechanism)[sunting | sunting sumber]

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)[sunting | sunting sumber]

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

Penyesuaian (Adaptation)[sunting | sunting sumber]

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Penciptaan (Origination)[sunting | sunting sumber]

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1, Cognitive Domain. New York: David McKay.

Gronlund, N. E. (1978). Stating Objectives for Classroom Instruction 2nd ed. New York: Macmilan Publishing.

Krathwohl, D. R. ed. et al. (1964), Taxonomy of Educational Objectives: Handbook II, Affective Domain. New York: David McKay.

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York: McMillan Publishing.

Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB – IKIP Bandung.

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya. W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : GrasindTAKSONOMI BLOOM

Iklan
Kategori:Arsitek

MESAKAPAN UNDAGI

MESAKAPAN UNDAGI
Dalam sastra kearsitekturan di Bali, yakni dalam Lontar Keputusan Sanghyang Anala disebutkan: (ayat 16)
Yadyapin kita wruh ri katatwaning Wiswakarma Tatwa, ring yasa, brata mwah tapa, yan tan pakasadhana tarpana suksma, denira Sanghyang Aji sarwa wisesa, ta kataman pwa kita, hayuning keundagian, apan bina karma, tatwaning kaputusan lawan kadharmania. Artinya: Meskipun anda tahu tentang falsafahnya Wiswakarma (ilmu pengetahuan keundagian), demikian juga memahami tentang yasa, brata dan tapa (maksudnya prilaku dalam melakukan kegiatan keundagian), kalau tidak disertai dengan upacara widhi widhana penyucian, yang ditujukan untuk Sanghyang Aji seru sekalian alam (Sanghyang Widhi), tidak akan tercapai cita-cita anda, untuk mendapatkan keberhasilan dalam ke-undagi-an, sebab berlainan perbuatan dengan hakikat keputusan yang dicapai, dengan cara mencapainya (dharma krya)
Jadi melalui proses mesakapan undagi ini, sebagaimana disebutkan dalam lontar Keputusan Sanghyang Anala. Bahwa, merupakan suatu kewajiban bagi seseorang yang hendak melakoni dharmaning keundagian, untuk melalui upacara Sadhana Tarpana yang ditujukan kepada Ida Sanghyang Wisesa atau penguasa alam semesta. Bagi mahasiswa arsitektur Univ. Dwijendra yang hendak diwisuda senantiasa wajib melalui proses sadhana tarpana ini atau masakapan undagi. Bentuk simbolis dalam acara akhir proses penyucian ini adalah penyerahan “temutik” oleh Dekan Fakultas Teknik kepada calon undagi yang akan diwisuda. Pada lontar “asta kosali” koleksi BIC Bali kode: L.04T disebutkan bahwa “temutik” sebuah pisau lancip adalah symbol ketajaman pandangan atau pikiran, sedangkan palu-pahat sebagai symbol tenaga dan badan jasmani sebagai symbol ukuran-ukuran. Jadi dengan adanya pemberian “temutik” oleh Dekan kepada calon undagi yang hendak diwisuda menyiratkan makna pemberian pikiran yang tajam dari pihak guru kepada sisyanya (calon undagi), mulai sejak penerimaan “temutik” ini maka sang calon undagi yang akan diwisuda telah berhak mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan tugas-tugas keundagian.
Adegan: Dekan FT berpakaian adat ke pura, berada didepan Padmasana menghadap keselatan. Didepan Dekan ada mahasiswa calon undagi berpakaian adat pula menghadap kepada Dekan FT (keduanya, baik Dekan maupun mahasiswa duduk bersila). Ceritanya Dekan menyerahkan temutik yang telah dipasupati oleh pemangku/sulinggih, kepada mahasiswa (dengan kepala agak menunduk sedikit) yang menerima temutik tersebut. Pada saat penyerahan itu Dekan mengucapkan kalimat: Temutik ini saya serahkan kepada saudara Si Anu……. Sebagai tanda bahwa mulai saat ini saudara sudah boleh melaksanakan dharmaning keundagian. Dengan catatan, temutik ini hanya dapat dipergunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas keundagian, selain itu tidak boleh dipakai. Apabila telah selesai tugas keundagian dilaksanakan maka tempatkanlah temutik ini pada tempat yang disakralkan, jangan sekali-kali menaruhnya sembarangan. Calon undagi atau mahasiswa yang akan diwisuda menerima kalimat Dekan itu dengan sujud dan khidmat.
Kategori:Arsitek

Pengumuman Rencana Mewinten (Mesakapan Undagi)

Bagi mahasiswa yang akan diyudisium mohon hadir pada :
Hari/tanggal : Rabu, 3 Agustus 2016
Waktu : Pk. 16.00 Wita
Tempat : Padmasana Dwijendra
Pakaian : Adat Ke pura.

mahasiswa membawa : mutik (akan di pasupati) dan peralatan sembahyang.
snack di siapkan oleh masing masing mahasiswa.

demikian diumumkan kepada mahasiswa untuk dilaksanakan

*bagi mahasiswa lain yang berkesempatan hadir dipersilahkan.

Kategori:informasi, Mahasiswa

BEASISWA MAHASISWA

Info beasiswa mahasiswa: Program BeasiswaPT BCA Finance periode tahun 2016

Bagi mahasiswa yang berminat silakan baca persyaratannya, jika sudah terpenuhi persyaratannya hubungi pihak Ketua PS Arsitektur Undwi, semoga berhasil

beasiswa BCA.jpg

Kategori:Mahasiswa

Pabligbagan “Wastu Nusantara”

Dalam rangkaian peningkatan wawasan mahasiswa serta dosen tentang “Wastu Nusantara” maka Lembaga PS. Arstektur FT-Undwi mengadakan acara Pabligbagan “Wastu Nusantara” yang dibawakan oleh narasumber dari ITS yakni Profesor Dr. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch, dengan materi yang tersajikan dalam bentuk powerpoint, silakan klik saja gambar dibawah ini

wastu nusantara

Pabligbagan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Juli 2016, yang dihadiri oleh: Bapak Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar beserta ibu Rektor Universitas Dwijendra, serta mahasiswa PS. Arsitektur FT-Undwi dengan dosennya, hadir pula peserta kehormatan dosen Arsitektur Unud yakni ibu Dr. Ir. Siwalatri, M.T

 

 

Kategori:Arsitek

MENGINGAT PESAN ROMO MANGUN

romoDemikian luhur dan mulianya perjuangan Romo Mangun Wijaya dalam dunia arsitektur menyebabkan tumbuh hasrat untuk mengingat kembali pandangan-pandangan beliau yang telah tertuang dalam bentuk tulisan berkaitan dengan kondisi “Jati diri Arsitektur Indonesia”, tulisan yang diulang ketik ini termuat dalam sebuah karya bunga rampai (Eko Budihardjo, Menuju Arsitektur Indonesia, 1983)

Memang kultural bangsa kita (dikatakan lunak) sedang dalam pancaroba (untuk tidak mengatakan serba anaskhi). Kita sedang dalam kawah candradimuka perbenturan nilai-nilai, situasi psikologis yang masih serba menggapai-gapai, trial and error.  Setiap trial and error mahal harganya, getir dalam proses pelaksanaannya dan sering menimbulkan banyak frustrasi. Tidak hanya dalam bidang arsitektur/wastu, dalam dunia sastra, dalam dunia ilmu fisika, teknologi, industrialisasi, tata ekonomi, tata politik dan sebagainya bangsa manusia, khususnya bangsa kita secara lebih parah, sedang dalam keadaaan penjungkir balikan  tata nilai, tata ruang waktu, bahkan krisis  dalam pribadi serta identitas.

Mana ada arsitek sarjana dari suku Jawa di masa ini yang masih mampu membuat pendopo joglo Jawa yang benar? yang setiap bahan maupun ukuran betul-betul tumbuh dari dalam, dan bukan tempelan belaka seperti yang direfleksikam oleh analisa  fenomenologik Merleau Ponty, misalnya? yang kita peroleh hanyalah joglo-joglo blasteran Indo. Itu dapat dipahami dan barangkali tidak salah. Sebab sedikit banyak generasi kita adalah generasi Setadewa novel Burung-burung Manyar, Kaum Indo, lahir di Nusantara, tetapi dari pendidikan serta selera pada dasarnya “wong Londo”

Siapa dari antara kita yang masih mempunyai ketekunan dan niat untuk menyelam dalam jagad gede, jagad cilik Jawa, Minang, Sunda, Bali, Maluku dan seterusnya?

Dari pihak satu, memang justru itulah yang sengaja tidak dimaui generasi kini, sesudah Sumpah Pemuda 1928, yang ingin melebur diri dalam bangsa dan kebudayaan Indonesia. Dari pihak lain, proses Indonesianisasi bukanlah suatu barang jadi, melainkan suatu pergulatan proses historis yang berat. Dan tidak ada proses historis yang hanya ditentukan oleh faktor-faktor dan deerminan pribumi melulu. Pengaruh luar dari generasi “Earth one Space Ship”, bukanlah metode belaka, melainkan kecenderungan riil yang tanpa dapat dibendung berproses terus. Sampai ada seorng Takdir Alisjahbana yang tanpa gentar berkata bahwa ia tidak akan menangis kehilangan identitas kebangsaan Indoensianya, asal berhasil menemukan identitas dirinya dalam kebudayaan dunia yang lebih luas. Sama dengan 1928 yang juga tidak menangis bahkan bangga kehilangan kesukuan demi penemuan identitas Indonesia yang lebih luas. Kita boleh setuju atau tidak dengan sikap model Takdir ALisjahbana  itu, asal kita tahu dan jujur mencatat realita konkrit yang telah mewarnai kita masing-masing, dan menguji obyektip, sampai di mana ucapan Takdir itu betul atau keliru. Juga dalam realita arsitektur/wastu yang sedang kita reka sekarang ini. Sebab, adalah khayalan pemimpi di siang bolong belaka untuk menuntut arsitektur/wastu yang berkepribadian Indonesia, yang berkualitas tinggi, yang mengungkapkan nilai-nilai (nyata) yang dipeluk bangsa kita, jika memang beginilah kenyataan sehari-hari bangsa kita.: lalu-lintas serba ngawur, pungli serba merajalela, langka pengatur yang setia pada  aturan yang dibuatnya sendiri.

Sama dengan menuntut pembaharuan kurikula arsitektur, bila para dosen masih orang-orang yang lama, apa lagi belum jelas apa yang disebut baru itu. Sulit sekali menuntut dari rawa-rawa untuk mengeluarkan mata air yang bening. Mengikuti Merleau Ponty: bagaimana menuntut arti manis dari kata asam? Sebab bahasa (baca: Arsitektur/wastu) adalah sisi konstitutif  dari sang manusia itu sendiri.

Bagaimana lalu sikap kita dalam masalah ini?

Ada tiga kecenderungan dasar dari sikap yang mungkin.

  1. Mengikuti kearifan orang-orang Romawi kuno: Lex Agendi Lex Essendi = hukum berbuat adalah hukum keadaan. Bila keadaan semrawut, maka logislah, marilah kita menciptakan Arsitektur dan tata ruang sebagai pembahasannya, yakni semrawut juga. Jadi secara Prinsipal, selakuk ungkapan melulu, bahwa obyektip. Seperti dalam seni musik atau seni lukis kontemporer dalam sastra ala Iwan Simatupang, dan sebagianya. Ini sikap yang dari formalisme logika boleh disebut konsekuen. Seperti konsekuensi setiap kontemporer, sampai pun garbage in garbage out,  kalau anda memang berbakat bandit, jadilah pula bandit, jadilah pula bandit berkualitas tinggi.
  2. Sikap kedua menolak sikap yang prinsipal logis kontemporer di atas. Tetapi tidak menutup mata terhadap arus yang melanda. Oleh karena itu dipilihlah sikap yang dianggap realistis. Hanyut dalam arti ABS, tetapi sebagai prinsip dasar toh sikap seperti itu masih diakui keliru. Seperti  seorang birokrat yang masih dengan merana ikut berkorupsi. Sikap ini sesuai dengan sikap kaum politikus, meraih yang masih mungkin saja dalam suatu situasi yang tidak ideal. Namun dalam arti, menghanyutkan diri saja, agar selamat. Tetapi tetap mengakui, bahwa sedang hanyut.
  3. Sikap ketiga sadar juga tentang realita yang sedang membanjir, tahu betapa kuat arus banjir dan keterbatasan diri. Akan tetapi ia tidak hanyut belaka, walaupun dalam arti tertentu kalah melawan arus. Kemudi tetap dipegang erat dan kayuh tetap diayunkan, membebaskan diri dari arus banjir. Dapat selamat, dapat pula hancur, tetapi tegak sebagai manusia yang merdeka dan yang tuan terhadap tanggungjawabnya.

Sikap ini realistis juga, tetap meraih yang mungkin diraih dalam situasi yang tidak ideal, akan tetapi dengan tambahan: merintis perubahan keadaan, sehingga yang sekarang tidak ada berproses menjadi belum ada, sehingga yang sekarang belum mungkin, menjadi mungkin.  Sikap kedua tadi sikap politikus belaka, pedagang belaka, teknokrat belaka. Sikap ketiga ini adalah sikap negarawan, businessman dalam arti sejati, sikap kaum intelektual, Sikap teratai yang muncul di tengah rawa-rawa.

Ketiga kecenderungan sikap di atas pada dasarnya dalam semua profesi, bahkan sikap sehari-hari kita di rumah maupun dikampung. Demikian juga kaum arsitek dihadapkan pada pilihan-pilihannya. Saya merasa tidak kompeten untuk menganjurkan kepada Konggres IAI ini, sikap mana yang harus ditempuh oleh para anggota IAI, khususnya dalam ikhtiar untuk menemukan konsepsi arsitektur/wastu Indonesia. Yang penting hanyalah, agar kita mempunyai awareness terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mendatangi kita dalam masa pancaroba yang sedang kita hayati bersama ini. Sebab kompas yang rusak hanya membahayakan kapal dan nakhoda selama tidak diketahui benda itu rusak. Tetapi dengan kompas yang defek sekalipun asal nakhoda tahu, di mana kesalahannya, aware of the problem, bahaya secara prinsip sudah teratasi.

Kategori:Arsitek

RUANG LUAR – NATAH

Ruang luar (natah bali) saat tertentu menjadi ruang dalam, yang justru sangat seringkali ini terjadi dalam pengertian ruang arsitektur traditional Bali. Natah,sekalipun terbuka ke atas karena tak beratap namun “natah” dipastikan terlingkungi oleh bangunan sekelilingnya yg menjadi batas-batas pandangan serta batas “natah” ke arah horizontal. Jadi “natah” tidak berbatas dinding pagar, dibatasi oleh dinding bangunan, iya.
Natah, sebuah ruang yg terbentuk karena olahan manusia di arah mendatar seolah-olah tanpa sengaja, tapi berkolaborasi dengan alam ke arah vertikal yg dalam konsepsi manusia Bali sebagai perjumpaan bapa “akasa” dengan ibu “pertiwi”. Konsepsi ini khas Bali yg dikenal dgn konsep “rwa-bineda”.
Natah Bali, sekalipun terlihat sbg ruang terbuka sejatinya adalah ruang yg sangat terencana, direncanakan dgn sengaja oleh undaginya dengan memanfaatkan satuan tapak kaki (panjang ukuran telapak kaki, dari tumit ke ujung jempol kaki). Dengan pertimbangan bahwa perpindahan seseorang dari bangunan ke bangunan yg mengelilingi “natah” tersebut mempergunakan telapak kakinya, shg dapat dimengerti para tetua memanfaatkan telapak kaki sbg satuan ukuran “natah”.

IMG_20160719_154649

Natah di sebuah rumah tinggal

FB_IMG_1468579963161

Natah di sebuah sekolah