Beranda > Arsitek > MESAKAPAN UNDAGI

MESAKAPAN UNDAGI

MESAKAPAN UNDAGI
Dalam sastra kearsitekturan di Bali, yakni dalam Lontar Keputusan Sanghyang Anala disebutkan: (ayat 16)
Yadyapin kita wruh ri katatwaning Wiswakarma Tatwa, ring yasa, brata mwah tapa, yan tan pakasadhana tarpana suksma, denira Sanghyang Aji sarwa wisesa, ta kataman pwa kita, hayuning keundagian, apan bina karma, tatwaning kaputusan lawan kadharmania. Artinya: Meskipun anda tahu tentang falsafahnya Wiswakarma (ilmu pengetahuan keundagian), demikian juga memahami tentang yasa, brata dan tapa (maksudnya prilaku dalam melakukan kegiatan keundagian), kalau tidak disertai dengan upacara widhi widhana penyucian, yang ditujukan untuk Sanghyang Aji seru sekalian alam (Sanghyang Widhi), tidak akan tercapai cita-cita anda, untuk mendapatkan keberhasilan dalam ke-undagi-an, sebab berlainan perbuatan dengan hakikat keputusan yang dicapai, dengan cara mencapainya (dharma krya)
Jadi melalui proses mesakapan undagi ini, sebagaimana disebutkan dalam lontar Keputusan Sanghyang Anala. Bahwa, merupakan suatu kewajiban bagi seseorang yang hendak melakoni dharmaning keundagian, untuk melalui upacara Sadhana Tarpana yang ditujukan kepada Ida Sanghyang Wisesa atau penguasa alam semesta. Bagi mahasiswa arsitektur Univ. Dwijendra yang hendak diwisuda senantiasa wajib melalui proses sadhana tarpana ini atau masakapan undagi. Bentuk simbolis dalam acara akhir proses penyucian ini adalah penyerahan “temutik” oleh Dekan Fakultas Teknik kepada calon undagi yang akan diwisuda. Pada lontar “asta kosali” koleksi BIC Bali kode: L.04T disebutkan bahwa “temutik” sebuah pisau lancip adalah symbol ketajaman pandangan atau pikiran, sedangkan palu-pahat sebagai symbol tenaga dan badan jasmani sebagai symbol ukuran-ukuran. Jadi dengan adanya pemberian “temutik” oleh Dekan kepada calon undagi yang hendak diwisuda menyiratkan makna pemberian pikiran yang tajam dari pihak guru kepada sisyanya (calon undagi), mulai sejak penerimaan “temutik” ini maka sang calon undagi yang akan diwisuda telah berhak mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan tugas-tugas keundagian.
Adegan: Dekan FT berpakaian adat ke pura, berada didepan Padmasana menghadap keselatan. Didepan Dekan ada mahasiswa calon undagi berpakaian adat pula menghadap kepada Dekan FT (keduanya, baik Dekan maupun mahasiswa duduk bersila). Ceritanya Dekan menyerahkan temutik yang telah dipasupati oleh pemangku/sulinggih, kepada mahasiswa (dengan kepala agak menunduk sedikit) yang menerima temutik tersebut. Pada saat penyerahan itu Dekan mengucapkan kalimat: Temutik ini saya serahkan kepada saudara Si Anu……. Sebagai tanda bahwa mulai saat ini saudara sudah boleh melaksanakan dharmaning keundagian. Dengan catatan, temutik ini hanya dapat dipergunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas keundagian, selain itu tidak boleh dipakai. Apabila telah selesai tugas keundagian dilaksanakan maka tempatkanlah temutik ini pada tempat yang disakralkan, jangan sekali-kali menaruhnya sembarangan. Calon undagi atau mahasiswa yang akan diwisuda menerima kalimat Dekan itu dengan sujud dan khidmat.
Kategori:Arsitek
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: