Beranda > Arsitek > MENGINGAT PESAN ROMO MANGUN

MENGINGAT PESAN ROMO MANGUN

romoDemikian luhur dan mulianya perjuangan Romo Mangun Wijaya dalam dunia arsitektur menyebabkan tumbuh hasrat untuk mengingat kembali pandangan-pandangan beliau yang telah tertuang dalam bentuk tulisan berkaitan dengan kondisi “Jati diri Arsitektur Indonesia”, tulisan yang diulang ketik ini termuat dalam sebuah karya bunga rampai (Eko Budihardjo, Menuju Arsitektur Indonesia, 1983)

Memang kultural bangsa kita (dikatakan lunak) sedang dalam pancaroba (untuk tidak mengatakan serba anaskhi). Kita sedang dalam kawah candradimuka perbenturan nilai-nilai, situasi psikologis yang masih serba menggapai-gapai, trial and error.  Setiap trial and error mahal harganya, getir dalam proses pelaksanaannya dan sering menimbulkan banyak frustrasi. Tidak hanya dalam bidang arsitektur/wastu, dalam dunia sastra, dalam dunia ilmu fisika, teknologi, industrialisasi, tata ekonomi, tata politik dan sebagainya bangsa manusia, khususnya bangsa kita secara lebih parah, sedang dalam keadaaan penjungkir balikan  tata nilai, tata ruang waktu, bahkan krisis  dalam pribadi serta identitas.

Mana ada arsitek sarjana dari suku Jawa di masa ini yang masih mampu membuat pendopo joglo Jawa yang benar? yang setiap bahan maupun ukuran betul-betul tumbuh dari dalam, dan bukan tempelan belaka seperti yang direfleksikam oleh analisa  fenomenologik Merleau Ponty, misalnya? yang kita peroleh hanyalah joglo-joglo blasteran Indo. Itu dapat dipahami dan barangkali tidak salah. Sebab sedikit banyak generasi kita adalah generasi Setadewa novel Burung-burung Manyar, Kaum Indo, lahir di Nusantara, tetapi dari pendidikan serta selera pada dasarnya “wong Londo”

Siapa dari antara kita yang masih mempunyai ketekunan dan niat untuk menyelam dalam jagad gede, jagad cilik Jawa, Minang, Sunda, Bali, Maluku dan seterusnya?

Dari pihak satu, memang justru itulah yang sengaja tidak dimaui generasi kini, sesudah Sumpah Pemuda 1928, yang ingin melebur diri dalam bangsa dan kebudayaan Indonesia. Dari pihak lain, proses Indonesianisasi bukanlah suatu barang jadi, melainkan suatu pergulatan proses historis yang berat. Dan tidak ada proses historis yang hanya ditentukan oleh faktor-faktor dan deerminan pribumi melulu. Pengaruh luar dari generasi “Earth one Space Ship”, bukanlah metode belaka, melainkan kecenderungan riil yang tanpa dapat dibendung berproses terus. Sampai ada seorng Takdir Alisjahbana yang tanpa gentar berkata bahwa ia tidak akan menangis kehilangan identitas kebangsaan Indoensianya, asal berhasil menemukan identitas dirinya dalam kebudayaan dunia yang lebih luas. Sama dengan 1928 yang juga tidak menangis bahkan bangga kehilangan kesukuan demi penemuan identitas Indonesia yang lebih luas. Kita boleh setuju atau tidak dengan sikap model Takdir ALisjahbana  itu, asal kita tahu dan jujur mencatat realita konkrit yang telah mewarnai kita masing-masing, dan menguji obyektip, sampai di mana ucapan Takdir itu betul atau keliru. Juga dalam realita arsitektur/wastu yang sedang kita reka sekarang ini. Sebab, adalah khayalan pemimpi di siang bolong belaka untuk menuntut arsitektur/wastu yang berkepribadian Indonesia, yang berkualitas tinggi, yang mengungkapkan nilai-nilai (nyata) yang dipeluk bangsa kita, jika memang beginilah kenyataan sehari-hari bangsa kita.: lalu-lintas serba ngawur, pungli serba merajalela, langka pengatur yang setia pada  aturan yang dibuatnya sendiri.

Sama dengan menuntut pembaharuan kurikula arsitektur, bila para dosen masih orang-orang yang lama, apa lagi belum jelas apa yang disebut baru itu. Sulit sekali menuntut dari rawa-rawa untuk mengeluarkan mata air yang bening. Mengikuti Merleau Ponty: bagaimana menuntut arti manis dari kata asam? Sebab bahasa (baca: Arsitektur/wastu) adalah sisi konstitutif  dari sang manusia itu sendiri.

Bagaimana lalu sikap kita dalam masalah ini?

Ada tiga kecenderungan dasar dari sikap yang mungkin.

  1. Mengikuti kearifan orang-orang Romawi kuno: Lex Agendi Lex Essendi = hukum berbuat adalah hukum keadaan. Bila keadaan semrawut, maka logislah, marilah kita menciptakan Arsitektur dan tata ruang sebagai pembahasannya, yakni semrawut juga. Jadi secara Prinsipal, selakuk ungkapan melulu, bahwa obyektip. Seperti dalam seni musik atau seni lukis kontemporer dalam sastra ala Iwan Simatupang, dan sebagianya. Ini sikap yang dari formalisme logika boleh disebut konsekuen. Seperti konsekuensi setiap kontemporer, sampai pun garbage in garbage out,  kalau anda memang berbakat bandit, jadilah pula bandit, jadilah pula bandit berkualitas tinggi.
  2. Sikap kedua menolak sikap yang prinsipal logis kontemporer di atas. Tetapi tidak menutup mata terhadap arus yang melanda. Oleh karena itu dipilihlah sikap yang dianggap realistis. Hanyut dalam arti ABS, tetapi sebagai prinsip dasar toh sikap seperti itu masih diakui keliru. Seperti  seorang birokrat yang masih dengan merana ikut berkorupsi. Sikap ini sesuai dengan sikap kaum politikus, meraih yang masih mungkin saja dalam suatu situasi yang tidak ideal. Namun dalam arti, menghanyutkan diri saja, agar selamat. Tetapi tetap mengakui, bahwa sedang hanyut.
  3. Sikap ketiga sadar juga tentang realita yang sedang membanjir, tahu betapa kuat arus banjir dan keterbatasan diri. Akan tetapi ia tidak hanyut belaka, walaupun dalam arti tertentu kalah melawan arus. Kemudi tetap dipegang erat dan kayuh tetap diayunkan, membebaskan diri dari arus banjir. Dapat selamat, dapat pula hancur, tetapi tegak sebagai manusia yang merdeka dan yang tuan terhadap tanggungjawabnya.

Sikap ini realistis juga, tetap meraih yang mungkin diraih dalam situasi yang tidak ideal, akan tetapi dengan tambahan: merintis perubahan keadaan, sehingga yang sekarang tidak ada berproses menjadi belum ada, sehingga yang sekarang belum mungkin, menjadi mungkin.  Sikap kedua tadi sikap politikus belaka, pedagang belaka, teknokrat belaka. Sikap ketiga ini adalah sikap negarawan, businessman dalam arti sejati, sikap kaum intelektual, Sikap teratai yang muncul di tengah rawa-rawa.

Ketiga kecenderungan sikap di atas pada dasarnya dalam semua profesi, bahkan sikap sehari-hari kita di rumah maupun dikampung. Demikian juga kaum arsitek dihadapkan pada pilihan-pilihannya. Saya merasa tidak kompeten untuk menganjurkan kepada Konggres IAI ini, sikap mana yang harus ditempuh oleh para anggota IAI, khususnya dalam ikhtiar untuk menemukan konsepsi arsitektur/wastu Indonesia. Yang penting hanyalah, agar kita mempunyai awareness terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mendatangi kita dalam masa pancaroba yang sedang kita hayati bersama ini. Sebab kompas yang rusak hanya membahayakan kapal dan nakhoda selama tidak diketahui benda itu rusak. Tetapi dengan kompas yang defek sekalipun asal nakhoda tahu, di mana kesalahannya, aware of the problem, bahaya secara prinsip sudah teratasi.

Kategori:Arsitek
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: