RUANG BERINGIN DALAM KONTEKS TRI HITA KARANA DI WILAYAH DENPASAR – BALI

Oleh :  I Kadek Merta Wijaya

ABSTRAK

 

Pohon beringin dipandang sebagai pohon yang sarat akan nilai sakral dan ritual di kepulauan nusantara termasuk di Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu-Bali. Nilai sakral pada pohon beringin terkait dengan kekuatan supranatural yang menjiwai beringin tersebut yang mana dalam budaya Bali dikenal dengan sebutan tenget. Sedangkan nilai ritual pada pohon beringin terkait dengan upacara yang dilaksanakan untuk beringin sebagai bentuk penghormatan kepada kekuatan-kekuatan yang menjiwai beringin tersebut dalam menciptakan hubungan harmonis antara beringin (kekuatan niskala) dengan ruang sekitar beringin. Secara fisik, beringin merupakan jenis pohon hutan dengan struktur anatomi pohon yang besar sehingga memerlukan tempat yang cukup luas dalam perkembangan dan pertumbuhannya.  Fenomena yang terjadi di Bali pada umumnya dan wilayah Denpasar sebagai lokasi penelitian menunjukan bahwa kecenderungan beringin tumbuh di dekat pura, pasar, maupun di tengah-tengah permukiman penduduk. Penelitian ini akan mengkaji mengenai ruang beringin dalam konteks tri hita karana, dengan menggunakan metode desk study yang bersumber dari data literatur dan data empirik.

 

 

ABSTRACT

 

The banyan tree is viewed as a fully  sacred value  and ritual trees  ​​and rituals in the nusantara archipelago including Bali which the citizens are majority of Hindu-Balinese religion. Its value is related to the supernatural power as the spirit of  the banyan tree that in the Balinese culture is known as tenget.  Meanwhile, the ritual  value of  banyan tree is related to the conducted ceremony for the banyan tree as a expression ofrespect to the forces that animate the banyan tree in creating a harmonious relationship between the banyan (niskala force) with the space around the banyan tree. Physically, the banyan tree is a forest tree species with an anatomical structure of the large trees those need a place large enough in the development and growth. The phenomenon that’s occurred in Bali in general and the area of ​​Denpasar as the location of the study showed where the tendency banyan tree growing near temples, markets, even in the midst of settlement areas. This research will discuss about banyan spaces in the context within  tri hita karana through desk study method that sourced from some related iteratures and the empirical data.

      

 

  1. I.    PENDAHULUAN

 

Pohon beringin dipandang sebagai pohon yang sarat akan nilai sakral dan ritual di kepulauan nusantara termasuk di pulau Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu-Bali, di mana secara harfiah beringin diidentikan dengan kalpavrsa atau kalpataru yang merupakan pohon suci yang tumbuh di sorga. Nilai sakral berhubungan dengan kekuatan supranatural yang dipercaya menjiwai beringin tersebut sedangkan secara ritual berhubungan dengan pengupacaraan beringin sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan supranatural (tenget) tersebut dan berhubungan dengan pemanfaatan beringin sebagai sarana upacara ritual. Secara fisik beringin merupakan jenis pohon hutan yang mempunyai struktur pohon yang besar sehingga memerlukan lahan yang cukup luas dalam pertumbuhan dan perkembangan pohon tersebut.

Keberadaan fisik beringin yang merupakan jenis pohon hutan dengan struktur yang besar dan menciptakan ruang di bawahnya cenderung dimanfaatkan sebagai kegiatan yang bersifat profan. Kegiatan profan yang dilakukan adalah sebagai tempat berkumpul maupun berjualan, hal ini karena fisik beringin menciptakan ruang di bawahnya dan ruang sekitar beringin. Namun selain dampak positif secara keruangan, terdapat dampak negatif yang ditimbulkan yaitu keberadaan fisik beringin dapat mengganggu keberadaan sebuah bangunan jika bangunan tersebut berada di dekat beringin. Dan secara niskala, tenget beringin merupakan kekuatan alam kecil yang menjiwai beringin merupakan kekuatan niskala yang berada di tingkat yang rendah dibandingkan dengan niskala di tingkat pawongan dan parahyangan.

Tri hita karana merupakan pandangan hidup masyarakat Hindu-Bali sebagai hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan yang dimanifestasikan dalam wujud parahyangan (tempat suci), pawongan (permukiman penduduk) dan palemahan (area publik). Dalam penelitian ini akan dikaji kedudukan beringin yang dipandang tenget di Bali pada umumnya dan wilayah Denpasar pada khususnya dalam konteks tri hita karana, dengan lokasi penelitian di wilayah Denpasar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab pada tahap pembahasan adalah: “seperti apa ruang tempat tumbuh pohon beringin dalam konteks tri hita karana di wilayah Denpasar?”

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode desk study dengan konsentrasi kajian pada literatur dan data empirik. Lokasi penelitian yaitu di wilayah Denpasar, Bali dengan dasar pertimbangan Denpasar adalah daerah dengan kehidupan masyarakatnya yang semakin heterogen sehingga akan banyak ditemukan fenomena-fenomena menarik yang terkait dengan keberadaan ruang beringin. Fokus amatan yaitu pada ruang beringin ditinjau dari konteks tri hita karana.  

Prosedur penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap, yaitu:

  1. Tahap perumusan data, baik yang bersumber pada literatur maupun data empirik.
  2. Tahap analisis, meliputi analisis data primer dan sekunder, secara kualitatif dan grafis. Analisis dilakukan dengan mengamati kedudukan tempat tumbuh beringin di daerah pura, di pasar, maupun di tengah-tengah permukiman penduduk serta hubungannya dengan elemen-elemen sekitar.
  3. Tahap sintesis, yaitu tahap penarikan kesimpulan berdasar hasil analisis yang disajikan dalam bentuk deskripsi dan dilengkapi dengan grafik.

 

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka yang digunakan yaitu karakter pohon beringin, tri hita karana, kaja-klod dan kangin-kauh, tri mandala, dan konsep sekala niskala.

  1. Pohon Beringin

Pohon beringin (Ficus benjamin) merupakan pohon dalam budaya asli kepulauan Nusantara dipandang suci dan melindungi penduduk setempat. Budaya menghaturkan sesajen – sebagai warisan budaya animisme dan dinamisme masa lalu – di bawah pohon beringin yang berusia tua dan memiliki ukuran besar yang diyakini sebagai tempat sakral berkekuatan magis. Kepercayaan tersebut menjadikan tempat di sekitar pohon beringin oleh beberapa orang  sebagai tempat yang angker dan perlu dijauhi (Wijaya, 2009).

Pohon beringin mempunyai ukuran pohon yang besar dan tajuk yang lebar serta daun, cabang dan batangnya mengeluarkan getah kental berwarna putih. Ciri lain pohon beringin yaitu memiliki akar nafas atau akar gantung yang keluar dari cabangnya dan menjulur ke bawah. Akar gantung atau akar nafas akan tumbuh membesar menjadi batang ketika mencapai tanah (Swestiani D. dan A. Sudomo, 2009). Tajuk yang lebar dari pohon beringin akan membentuk ruang di bawahnya yang cenderung dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai ruang berkumpul dan sebagai tempat berjualan. Dalam cerita masyarakat Bali pada zaman dahulu menyebutkan bahwa ruang di bawah pohon beringin dimanfaatkan sebagai tenten (pasar tradisional).

 

  1. Tri Hita Karana

Filosofi Tri hita karana dalam arsitektur tradisional Bali sebagai kehidupan masyarakat Bali terwujud dari tiga kutub yaitu atma (unsur jiwa), angga (unsur wadah), dan khaya (unsur tenaga, kekuatan) (Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Bali, 1985). Menurut Dharmika (1995 dalam Putra, 2003). Ketiga unsur yaitu atma, khaya, dan angga diwujudkan dalam kehidupan nyata yaitu (a) parhyangan merupakan tempat suci pemujaan bagi umat Hindu yang diwujudkan dalam bentuk pura sebagai unsur pencerminan ke-Tuhan-an, (b) pawongan berupa manusia yang hidup dalam organisasi masyarakat adat dan (c) palemahan berupa tempat tinggal atau alam.

  1. KajaKlod dan KanginKauh

Kaja-klod bagi masyarakat Hindu-Bali merupakan arah sumbu natural, kaja sebagai arah gunung dan klod sebagai arah laut. Arah kajaklod untuk masyarakat Bali yang tinggal di bagian selatan pulau Bali berbeda dengan masyarakat di belahan utara pulau Bali. Bali bagian selatan, arah kaja ke arah utara, sedangkan Bali bagian utara arah kaja ke arah selatan. Hal ini karena posisi gunung berada di bagian tengah pulau Bali. Sumbu kanginkauh atau sumbu ritual merupakan arah terbit-terbenam matahari (Departemen Pendidkan dan Kebudayaan, 1986).

  1. Tri Mandal

Tri Mandala merupakan hirarki pembagian ruang secara horisontal yaitu utama, madya dan nista. Secara umum, arsitektur pura sebagai tempat persembahyangan umat Hindu-Bali merupakan tempat suci yang memiliki tiga mandala dari yang utama ke nista yaitu jeroan (utama), jaba tengah (madya), dan jaba sisi (nista). Masing-masing tingkatan mandala dalam arsitektur pura mengandung unsur ruang dan waktu (Hasil Sabha Arsitektur Tradisional Bali, 1984).

  1. Konsepsi Sekala dan Niskala

Arsitektur tradisional Bali terdiri dari dua unsur alam yaitu sekala dan niskala yang mewadahi kehidupan manusia secara utuh dan lengkap. Unsur sekala dan niskala merupakan unsur dikatomi atau dualistik yang bertentangan namun saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan yang disebut konsepsi rwabhineda. Arsitektur tradisional Bali harus mampu mengungkapkan kedua unsur sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata) yang dalam perwujudannya mampu membawakan dimensi realistas dan sekaligus juga membawakan dimensi yang berada di luar realitas. Dalam wujud arsitektur (sekala), pancaran di luar realitas (niskala) diletakan dalam wujud kesatuan dan terpancar pada setiap bagian dari arsitektur tersebut. Hal ini sama dengan konsep keyakinan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) yang tidak perlu langsung ditunjukan atau digambarkan dalam suatu bentuk tapi harus diberikan sedemian rupa, sehingga wujud arsitektur tersebut dapat memancarkan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) yang bersifat tidak berwujud (Hasil Sabha Arsitektur Tradisional Bali, 1984).

Pembahasan

  1. Beringin dalam Konteks Parahyangan

Kedudukan beringin dengan sebuah pura di wilayah Denpasar-Bali yaitu berada di luar area pura yang di batasi oleh tembok penyengker atau berada di lahan pelaba pura. Keberadaan beringin dalam hal ini karena beringin disimbolkan sebagai penjaga pura atau ancangan yang secara nyata diwujudkan oleh elemen saput poleng yang membelit batang beringin. Keberadaanya di luar pura karena secara fisik beringin mempunyai struktur anatomi yang besar dan merupakan jenis pohon hutan yang memerlukan ruang yang luas dalam perkembangan dan pertumbuhan hidupnya, sehingga apabila ditanam dengan jarak yang dekat antara beringin dengan pelinggih-pelinggih pura, akan dikawatirkan mengganggu keberadan fisik dari bangunan pelinggih pura tersebut.

Kedudukan beringin dalam ruang sekala dan niskala dalam parahyangan yaitu secara sekala sebagai petanda keberadaan sebuah pura karena bentuk fisik yang besar yang menciptakan kognisi masyarakat terhadap keberadaan pura tersebut sedangkan secara niskala, kekuatan tenget beringin menjiwai ruang pelaba pura yang bersangkutan sehingga mampu menetralisir pengaruh-pengaruh negatif yang masuk ke pura.

Kedudukan beringin sebagai sebuah ancangan pura dalam konteks kosmologi ruang pura yaitu berada di luar area pura yang di batasi penyengker. Dalam hal ini penyengker sebagai elemen pembatas yang membagi ruang yang sifatnya sakral dan profan atau jeroan pura dan jaban pura atau luan pura dan teben pura dan konsep kaja-klod dan kangin-kauh tidak berlaku dalam konteks ini. Hal ini karena perkembangan dan pertumbuhan beringin terjadi secara vernakular yaitu beringin dengan karakteristik secara fisik dan non fisik berada di lahan pelaba pura sehingga secara fisik tidak mengganggu keberadaan fisik pura dan secara secara non fisik sebagai penjaga atau ancangan pura yang bersangkutan. Kedudukan beringin terhadap pura terlihat dalam kasus beringin di Denpasar yaitu Pura Taman Sari daerah Sanur, Pura Dalem Benculuk Desa Peguyangan Kangin, Pura Desa lan Puseh Kertha Waringin Sari, Pura Desa lan Puseh Dangin Puri Kangin, Pura Tambangan Badung Desa Pemecutan, dan Pura Puri Satria Desa Dangin Puri Kauh.

Kaja

Klod

Kaja

Klod

Klod

Kaja

  1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura
  2. Beringin berada di posisi klod (nista) dari pura
1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura

2. Beringin berada di posisi kauh (nista) dari pura

1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura

2. Beringin berada di posisi kangin (utama) dari pura

Beringin di Desa Sanur, Denpasar Selatan

Beringin di Peguyangan Kangin, Denpasar Utara

Beringin di Desa Penatih, Denpasar Timur

 

Kaja

Kaja

Kaja

Klod

Klod

Klod

1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura

2. Beringin berada di posisi klod (nista) dari pura

1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura

2. Beringin berada di posisi kangin (utama) dari pura

1. Beringin berada di lahan pelaba pura atau di luar tembok penyengker pura

2. Beringin berada di posisi kauh (nista) dari pura

Beringin di Desa Dangin Puri Kangin,

Denpasar Utara

Beringin di Desa Pemecutan,

Denpasar Barat

Beringin di Desa Dangin Puri Kauh,

Denpasar Utara

Beringin sebagai ancangan pura berada di lahan pelaba pura yang dibatasi oleh tembok penyengker pura, dan lahan pelaba pura tidak selalu berada di nista dari posisi pura, sehingga kedudukan beringin sebagai ancangan pura tidak selalu berada di arah nista. Hirarki ruang beringin sebagai ancangan pura di batasi oleh tembok penyengker pura
Keterangan :

Pura

Lahan Pelaba Pura

Gambar 1.  Matriks Posisi Beringin sebagai Ancangan Pura (lanjutan)

Sumber: Hasil analisis, 2010

Gambar di atas menunjukan bahwa kedudukan beringin sebagai sebuah ancangan atau penjaga tidak selalu berada di arah nista, namun keberadaan beringin sebagai sebuah ancangan berada di lahan pelaba pura di luar area pura yang di batasi tembok penyengker. Jadi tembok penyengker sebagai elemen yang menjaga kekontrasan antara jeroan pura dan jaban pura atau luan pura dan teben pura.

  1. Beringin dalam Konteks Pawongan

Beringin dalam konteks pawongan di wilayah Denpasar berpengaruh terhadap permukiman penduduk yaitu terdapat jarak antara beringin dengan permukiman penduduk berupa elemen jalan, sungai, jembatan, pasar, warung, kios dan bangunan yang sifatnya publik. Hal ini berdasarkan pertimbangan pada aspek sekala dan niskala. Aspek sekala berkaitan dengan karakter beringin yaitu memiliki  anatomi pohon besar yang mempengaruhi keberadaan fisik bangunan rumah seperti akar beringin yang besar yang dapat merusak bagian bangunan rumah penduduk maupun tertimpa pohon beringin jika beringin tersebut roboh. Sedangkan aspek niskala berkaitan dengan tenget beringin yang merupakan kekuatan alam kecil yang menjiwai beringin tersebut dan berpengaruh secara niskala terhadap keberadaan ruang sekitar beringin yang dalam hal ini adalah rumah penduduk. Pertimbangan yang lainnya adalah karena tenget beringin mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan niskala di daerah pawongan dan parahyangan. Dengan demikian kedudukan beringin berada di palemahan sedangkan rumah penduduk berada di pawongan.

Jarak antara beringin dengan permukiman penduduk membentuk lapisan-lapisan klaster yang terlihat dari kasus beringin di Desa Pemogan, Desa Dauh Puri Kauh, Desa Sumerta Kaja.

Peta Kunci

Keterangan
Beringin
Kios/Toko/Warung
P. Penduduk
Pura
Jalan
Sungai
Jembatan
 

 

Lapisan klaster yaitu: (1) beringin sebagai lapisan inti; (2) pertigaan jalan sebagai lapisan ruang setelah beringin; (3) kios atau warung; dan (4) permukiman penduduk

Gambar 2. Lapisan Klaster Beringin di Desa Pemogan, Denpasar Selatan

Sumber: Hasil analisis, 2010

Peta Kunci

Keterangan
Beringin
Kios/Toko/Warung
P. Penduduk
Pura
Jalan
Sungai
Jembatan
   

 

Lapisan klaster yaitu: (1) beringin sebagai lapisan inti; (2) ruang jalan dan sungai serta jembatan sebagai lapisan ruang setelah beringin; dan (3) kios atau warung dan permukiman penduduk.

Gambar 3. Lapisan Klaster Beringin di Desa Dauh Puri Kauh, Denpasar Barat

Sumber: Hasil analisis, 2010

Peta Kunci

Keterangan
Beringin
Kios/Toko/Warung
P. Penduduk
Jalan
Sungai
Jembatan
   

 

Lapisan klaster yaitu: (1) beringin sebagai lapisan inti; dan (2) ruang jalan dan permukiman penduduk

Gambar 4. Lapisan Klaster Beringin di Desa Sumerta Kaja, Denpasar Timur

Sumber: Hasil analisis, 2010

  1. Beringin dalam Konteks Palemahan

Beringin dalam konteks palemahan yaitu berada di perbatasan desa dalam lingkup wilayah Denpasar dan dalam lingkup tempat di mana beringin tersebut tumbuh yaitu berada di pertigaan atau perempatan jalan maupun berada di pesar atau tempat-tempat umum. Keberadaan beringin tumbuh di perbatasan desa karena menjadi petanda perbatasan sebuah desa dan kecenderungan daerah perbatasan desa merupakan daerah aliran sungai dengan kandungan air yang cukup besar sehingga baik untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik pohon beringin. Beringin yang menjadi petanda perbatasan desa dimanfaatkan sebagai tenten yang berkembang sampai sekarang sebagai pasar. Jadi keberadaan tempat tumbuh beringin cenderung di daerah perbatasan desa, yang mana perbatasan sebuah desa dalam konteks tri hita karana berada dalam tingkat palemahan desa.

Gambar 5. Kedudukan Beringin di Perbatasan Desa dalam Wilayah Denpasar

Sumber: Hasil analisis, 2010

Sintesis

a)   Konteks parahyangan, kedudukan beringin berada di luar pura baik dalam skala messo maupun makro yaitu sebagai ancangan atau penjaga pura yang bersangkutan. Gambaran mengenai keberadaan beringin dalam konteks tri hita karana disajikan dalam gambar di bawah ini.

 

Gambar 6. Kedudukan Beringin dalam Konteks Parahyangan

Sumber: Hasil analisis, 2010

b)    Konteks palemahan dan pawongan, kedudukan beringin berada di area publik seperti jalan, jembatan, pasar dalam sekala messo dan dalam skala makro berada di perbatasan desa, yang membentuk klaster-klaster ruang dengan permukiman penduduk berada di lapisan klaster terluar. Sehingga dalam konteks pawongan, permukiman penduduk menjauhi beringin.

 

Keterangan
  Vibrasi Tenget
 
  Penyengker
 
 

Gambar 7. Kedudukan Beringin dalam Konteks Pawongan dan Palemahan

Sumber: Hasil analisis, 2010

 

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kedudukan ruang tempat tumbuh beringin dalam konteks tri hita karana adalah sebagai berikut.

  1. Pada tingkat parahyangan, ruang beringin berada di luar area pura atau berada di pelaba pura yang menduduki tingkat nista terhadap kedudukan ruang pura. Hal ini karena beringin merupakan ancangan atau penjaga pura yang bersangkutan. Pertimbangan yang lain karena beringin mempunyai karakter fisik pohon yang besar yang dapat mempengaruhi atau merusak keberadaan pelinggihpelinggih pura.
  2. Pada tingkat pawongan, ruang beringin ditandai dengan keberadaan elemen lain yang bersifat publik yang memberikan jarak antara beringin dengan rumah penduduk. Terdapat jarak antara beringin dengan rumah penduduk karena mempertimbangkan aspek tenget beringin yang berada pada tingkat yang rendah dibandingkan dengan niskala daerah pawongan. Pertimbangan yang lainnya karena keberadaan fisik beringin dapat mempengaruhi keberadaan rumah penduduk.
  3. Pada tingkat palemahan, ruang beringin berada di perbatasan desa yaitu dekat dengan aliran sungai maupun pasar. Hal ini menunjukan tenget beringin merupakan kekuatan niskala yang menduduki daerah yang rendah dibandingkan dengan niskala parahyangan dan pawongan dalam konteks desa. Di samping itu juga keberadaan beringin akan menjadi petanda perbatasan sebuah desa atau keberadaan pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986. Arsitektur Tradisional Bali, Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Dharmika, Ida Bagus, 1995. Kerangka Konsepsual Hindu Mengenai Hubungan Timbal Balik antara Manusia dan Lingkungan Hidup dalam Moksartham Jagaddhita (Editor Ngurah Nala), Denpasar: Upada Sastra.

Hasil Sabha Arsitektur Tradisional Bali, 1984. Rumusan Arsitektur Bali. Denpasar: Hasil Sabha Arsitektur Tradisional Bali.

Putra, I Made Ardana, Atmaja, Jiwa (editor), 2003. Tri hita karana di Antara Teori dan Aplikasi dalam Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali, Denpasar: CV. Bali Media Adhikarsa.

Swestiani D. dan A. Sudomo, 2009. Kajian Manfaat Jenis Beringin Putih dalam SURILI,  Suara, Berita dan Liputan Rimbawan Jawa Barat.

Wijaya, I Kadek Merta, 2009. “Konsep Ruang di Sekitar Pohon Beringin yang Tumbuh pada Area Publik di Wilayah Denpasar – Bali”, Sebuah Tesis, Teknik Arsitektur dan Perencanaan Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: