PENGARUH KEBUDAYAAN CINA PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL DAERAH BALI (Kajian Kepustakaan)

Oleh :

I Made Artha

ABSTRACT

Bali and Tang’s dynasty trade relations were occurred in 618-908 AD and continued in friendly relations. The relationship generated a cultural alcultulration, in this context between China and Bali.  Balinese culture nature is flexible adaptive and selective in accepting and adopting the foreign cultural influences, so it’s still able to survive and not lose its identity as an ethnic one. The point  is the “foreing architecture”  ajusted  the norms of traditional Balinese architecture, so it’s born a mix architecture which means that the Balinese traditional architecture that’s  based on the Hindu philosophy as the main and an additional touch of Chinese architecture.

The study uses a content analysis methodof various literatures onChinese architecture to gain the theoritical framework which will be verified some phenomenons of mixed architecture, whether  it’s confirmated or not.

The research results show that (i) the cultural contacts through trade was able to create an healthy cultural adaptation process and humane. (ii) the characteristics of equality, balance and harmony to promote integration and acculturation, (ii) the influence of Chinese architecture was big enough effect, but it was passive nature, (iv) the use of another term adoption of Chinese culture was not absolute absorbed as the original function, but interpreted (understood ) to enrich the repertoire of Balinese traditional architecture.

  1. I.    PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Adanya hubungan dagang (niaga)  sudah lama terjalin sejak dinasti Tang (yaitu tahun 618-908 M) dan  mengarah pada hubungan persahabatan (Pemda Tingkat I Bali, 1986). Hubungan antara kebudayaan memungkinkan terjadinya saling mempengaruhi atau asimilasi budaya antar masyarakat etnik, yang dalam hal konteks Cina & Bali. Hasil hubungan tersebut bisa dalam bentuk akulturasi dari kedua unsur kebudayaan (Sulistyawati, 2008).

Kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif serta selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh budaya luar, khususnya dalam kesenian, sehingga tetap mampu bertahan lama dan tidak kehilangan jati diri sebagai identitas etnik Bali (Ardita, 2008). Arsitektur tradisional Bali merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki ciri khas/unik, yaitu dari nilai-nilai luhur yang dilandasi oleh ajaran agama Hindu. Antara lain adanya nilai-nilai keseimbangan & keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan antar sesama manusia (Pawongan) dan hubungan dengan lingkungan (Palemahan) yang tercermin dalam ajaran atau konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan).

1.2   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas dapat dirumuskan yaitu, dalam bentuk apa pengaruh kebudayaan Cina terhadap arsitektur tradisional bali sebagai produk budaya masyarakat etnis Bali.

 

1.3   Tujuan Pembahasan

Terkait dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuannya untuk memperoleh jawaban terhadap permasalahan yang dirumuskan di atas, mengenai bagaimana dan sejauhmana pengaruh arsitektur dari kontak budaya Cina terhadap arsitektur tradisional Bali.

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Konsep Akulturasi Budaya

Konsep akulturasi merupakan konsep integralistik yang secara kultural mampu memberikan kesempatan dua atau lebih unsur dari kebudayaan berbeda yang berkomunikasi satu dengan yang lainnya secara demografis, geografis dan kultural. Akulturasi terwujud tatkala suatu unsur budaya asing diterima dan diolah ke dalam budaya asli tanpa hilangnya kepribadian kebudayaan asli tersebut. Akulturasi selalu didahului oleh peristiwa komunikasi antara etnis, antar populasi maupun antar kebudayaan (Geriya, 2008). Fenomena akulturasi cendrung menumbuhkan sejenis emosi kebudayaan dan spiritual berbasis kesetaraan, keharmonisan dan kemuliaan. Refleksi dari satu fenomena akulturasi kebudayaan adalah terjalinnya dua kebudayaan yang berbeda secara komulatif, integratif, dan fungsional secara penuh arti dan makna. Peradaban merupakan bagian dari kebudayaan yang bernilai tinggi, halus, bermutu tinggi dan berkeunggulan. Unsur-unsur pokok yang berfungsi penting dalam pembangunan dan pengembangan roh dan peradaban adalah : (1) agama yang memberi bobot etika dan spiritualitas;    (2) kesenian yang memberi mutu estetika dan solidaritas; (3) iptek yang mengoptimalisasi rasionalitas dan praktika; (4) ekonomi yang memacu kesejahteraan dan energisitas; (5) keamanan yang menguatkan kedamaian; dan  (6) kearifan lokal yang mengokohkan pondasi, pijakan  identitas dalam keragaman (Geriya, 2008).

 

2.2  Konsep Identitas

Identitas etnis adalah ciri khas suatu etnis yang membedakan etnis tersebut dengan etnis-etnis yang lain. Identitas etnis dibentuk oleh unsur-unsur kepribadian sosial dan budaya seperti: pandangan hidup, sistem nilai, sistem lambang, sistem bahasa, kesenian, organisasi sosial, ekonomi, sistem ritual. Kajian Koenjaraningrat  (1985) atas kebudayaan nusantara mengungkapkan, bahwa unsur bahasa dan kesenian merupakan dua unsur kebudayaan yang berfungsi sangat mendasar bagi identitas etnik nusantara. Identitas etnis berfungsi secara internal dan eksternal. Secara internal, ditujukan kepada “orang dalam”, yaitu warga etnis tersebut sebagai identifikasi diri. Secara eksternal ditujukan kepada “orang luar” untuk membangun citra etnis tersebut dalam berkomunikasi antar etnis. Sesuai dengan hakikat masyarakat dan kebudayaan yang bersifat dinamik, identitas suatu etnis juga bersifat dinamis dan berubah.

2.3  Teori Tentang Arsitektur Cina

Karakteristik arsitektur Cina yang perlu dikenali seperti yang diuraikan dalam “Chinese Architecture” oleh G. Lin (1989) adalah :

  1. organisasi ruang (spatial organization) pada arsitektur Cina didasarkan pada kebutuhan hidup sehari-hari yang dipadukan dengan persyaratan estetika yang dianut masyarakat Cina, seperti yang tampak pada pembentukan unit-unit standarisasi yang digunakan untuk membentuk ruang-ruang interior dan eksterior bangunan.
  2. organisasi ruang arsitektur Cina berasal dari unit atau bagian terkecil yang disebut Jian  atau bay room sebagai standar unit yang dapat dikembangkan atau dibuat secara berulang-ulang menjadi suatu massa bangunan atau beberapa kelompok bangunan. Jiam  adalah sebuah ruang persegi empat atau hanya dibatasi oleh kolom/tiang, sehingga secara psikologis juga membentuk sebuah ruangan.
  3. konsep organisasi ruang ini dapat diterapkan baik pada bangunan pribadi ataupun bangunan publik dengan memuat variasi pada hall, courtyard dari susunan unit ruang.
  4. penataan ruang luar pada arsitektur Cina (rumah-rumah berlanggam Cina) yaitu dengan aturan-aturan yang dipengaruhi oleh “Hong Sui” atau “Feng Sui”. Selain itu pada bagian belakang rumah terdapat taman yang dilengkapi dengan sebuah kolam. Pada rumah Cina, taman dan kolam disimbolkan sebagai sorga kecil (lengkap dengan unsur tanah, air, api, kayu, besi dan udara) berfungsi untuk menetralisir unsur buruk/jahat yang terbawa dari luar.
    1. Contoh courtyard yang berada  di kanan dan kiri bangunan inti

      penataan ruang dalam pada arsitektur rumah Cina memiliki penataan massa-massa bangunan yang simetris. Jika dilihat dari depan akan terlihat susunan massa bangunan yang makin meninggi ke belakang (bila dilihat dari susunan atapnya). Hal ini menujukkan bahwa makin ke belakang, ruang yang ada semakin penting artinya. Courtyard merupakan ciri khas rumah-rumah Cina (arsitektur Cina) adalah sebagai pemisah fungsi atau sebagai pusat orientasi dari ruang-ruang yang ada.

 

 

 

 

 

 

Gambar 1

Courtyard Sebagai  Konsep

Organisasi Ruang Arsitektur Cina

Sumber : Widayati, 2004

 

  1. pintu utama, yang berfungsi sebagai pengetuk pintu (seperti pada rumah-rumah tinggal pada zaman duhulu). Benda atau hiasan ini berbentuk segi delapan. Pa Kua menggambarkan empat penjuru mata angin serta empat penjuru sekundernya. Pa Kua dianggap mempunyai suatu kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat serta pengaruh buruk yang merupakan ancaman bagi seisi rumah. Pa Kua pada pintu-pintu utama tersebut ter- diri dari besi yang dicat dengan warna emas.

     

    ragam hias berupa Pa Kua adalah sebuah hiasan yang terletak pada pintu- pintu utama,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2

Contoh Pa Kua sebagai Hiasan

Pengetuk Pintu

Sumber : Dok. Pribadi (1999)

 

 

2.4  Prinsip Arsitektur Tradisional Bali

Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun yang dinilai baik dan benar oleh masyarakat. Tradisional berarti tetap berpegang teguh pada norma-norma dan kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun. Dalam proses perwujudan pembangunan secara tradisional, di samping berpegang pada norma-norma dan kebiasaan yang sudah mentradisi, sering juga berpatokan pada aturan-aturan yang jelas dan tegas bahkan sering dogmatis, baik disajikan secara tertulis maupun tidak tertulis (Putra, I Gst. Md, 2005).

Proses pembentukan aturan-aturan tradisional, menurut Johan Silas (1978), dirumuskan setelah proses pelaksanaan dari suatu keinginan untuk membangun  dilaksanakan atau berupa produk. Sedangkan dalam sistem pembangunan modern justru aturan dirumuskan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembangunan.

Arsitektur tradisional Bali merupakan ceriman pola pikir, sikap hidup masyarakat Bali seutuhnya serta berbagai aspek kehidupan tradisional pada umumnya sehingga arsitektur tradisional Bali mengandung unsur tata nilai dan tata cara dalam menempatkan diri terhadap lingkungannya (Dinas PU Propinsi Bali, 1986). Sebagaimana dalam prinsip ekologi, hubungan manusia dengan alam dalam berbagai proses kegiatan berpedoman dengan ajaran agama Hindu yaitu mengenai etika dan ritual. Aspek spiritual ini melandasi perwujudan karya arsitektur tradisional Bali dalam berbagai fungsi untuk mewadahi kegiatan manusia. Bertitik tolak dari pemikiran tersebut di atas, arsitektur tradisional Bali merupakan suatu unsur pengakraban antara manusia dengan alam lingkungannya. Hal ini terlihat dalam penataan ruang yang berlandaskan pada panca maha butha sebagai pencerminan wujud makrokosmos (bhuwana agung) dan mikrokosmos (bhuwana alit).

2.5  Filosofi Perwujudan Arsitektur Tradisional Bali

Ungkapan dalam arsitektur tradisional Bali merupakan endapan filosofi atau dasar-dasar perwujudannya ke dalam bentuk yang lebih nyata. Dasar-dasar filosofi tersebut meliputi :

  1. pandangan hidup masyarakat (etnik Bali)

Merupakan titik tolak dan diyakini memiliki unsur-unsur pembentuk yang sama pada manusia dan alam, hal ini menjadikan sebagai aturan/etika bagi manusia Bali untuk menempatkan diri di dalam lingkungannya.

  1. norma-norma agama maupun kepercayaan pada dasarnya bertitik tolak dari keyakinan  daam kerangka ajaran  agama Hindu yaitu Panca Sradha, berupa lima keyakinan terhahap adanya : Brahman atau Tuhan, Atman atauroh, punarbhawa atau reinkarnasi, karma phala atau hukum sebab akibat, moksa (ke alam Tuhan).
  2. sikap hidup masyarakat, suatu sikap terhadap sesama manusia, alam dan makhluk dibawahnya, sikap ini terkandung dalam ajaran Tat Twam Asi. Ketiga hal ini, pada akhirnya melahirkan konsep perwujudan arsitektur tradisional Bali.

 

2.6  Konsep Dasar Arsitektur Tradisional Bali

Konsep dasar arsitektur tradisional Bali yang lahir dari endapan filosofi di atas adalah :

  1. Rwa Bhineda, konsep dikotomi atau dua unsur yang bertentangan namun akan melahirkan suatu keharmonisan dalam perpaduannya.
  2. Tri Hita Karana, terdiri dari unsur jiwa, fisik dan tenaga yang terdapat dalam suatu raga/kehidupan (Parhyangan, Pawongan dan Palemahan).
  3. Tri Angga, perwujudan keharmonisan bhuwana agung dan bhuwana alit dalam 3 (tiga) bagian fisik bangunan arah vertikal maupun horizontal.

 

 

 

 

 

III. PEMBAHASAN

 

3.1  Integrasi Kebudayaan Cina dengan Bali

Menurut Arnaya (Bali Post, Rabu Umanis, 30 Januari 2003), pada masa pemerintahan Bali Kuno dari zaman Dinasti Warmadewa, pantai utara pulau Bali merupakan pelabuhan dan pusat perdagangan yang sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang asing. Pusat perdagangan ini di bawah pengawasan Ratu Ngurah Kertha Pura dibantu oleh aparat administrasi pabean, yang sekarang dikenal dengan nama Ratu Gede atau Ratu Ayu Subandar. Beliau adalah salah seorang panglima dari Dinasti Sung yang sedang berkuasa di Tiongkok, yang diperbantukan untuk membantu Raja Nara Singa Murti di Bali dalam mengelola pelabuhan dan administrasi pabean. Arnaya menduga, ramainya transaksi perdagangan di masa lampau juga berpengaruh di bidang kebudayaan, yaitu terjadi kolaborasi budaya dari pedagang Melayu, Tiongkok, Babilonia, Pasundan, India dan pedagang-pedagang dari belahan dunia lainnya. Ini dapat dilihat dari peninggalan Pura Penegil Dharma di Desa Kubu Tambahan dan Bulian di Kabupaten Buleleng, terdapat pelinggih (stana pemujaan) Ratu Agung Syah Bandar, Ratu Agung Melayu, Ratu Bagus Sundawan, Ratu Gede Dalem Mekah, Ratu Ayu Pasek, Ratu Gede Siwa, Batari Sri Dwijendra dan Ratu Ayu Mutering Jagat. Keberadaan pura ini sangat berjasa dalam pembinaan dan penerapan integrasi agama.

Atas jasa baik yang begitu tulus, oleh masyarakat dan raja Bali pada saat dulu, menghargai Ratu Agung/Ratu Ayu Syah Bandar dan dipuja sampai saat ini. Hal tersebut juga dapat dihubungkan dengan adanya bukti-bukti yang ditemukan kurang lebih abad ke-delapan Masehi di Bali sudah beredar uang kepeng (jinah bolong), yang berasal dari berbagai dinasti yang memerintah di negeri Tiongkok/ Cina.

3.2  Pengaruh Arsitektur Cina pada Arsitektur Tradisional Bali

Menurut sumber yang didapat (Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1986) orang Cina mulai masuk ke Bali melalui jalur/kontak dagang diperkirakan mulai abad ke-tujuh. Orang-orang Cina/Tiongkok saat itu yang masuk ke Bali. Lalu mereka membuat bangunan-bangunan menurut prinsip-prinsip arsitektur Cina, seperti misalnya : tempat pemujaan, disebut Klenteng atau Konco, kemudian membuat rumah bertingkat yang disebut dengan Loteng dan sebagainya.

Prinsip penataan ruang dalam (masa-masa bangunan) memiliki pandangan atau pusat orientasi ke arah courtyard, yang berada di tengah-tengah. Pada komposisi masa-masa bangunan rumh Bali berorientasi ke Natah (communal space).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Linear courtyard di Tiongkok                                 Natah di Bali

Gambar 4

Linear Courtyard  dan  Natah

Sumber : Sulistyawati, MD., 2004

 

Bentuk angkul-angkul (pemesuan) pada rumah tradisional daerah Bali dataran diduga mendapat inspirasi dari bentuk entrance (pintu masuk) yang terdapat di Cina (Tiongkok), mengingat di daerah Cina/Tiongkok banyak dijumpai bentuk entrance/pintu masuk serupa namun bentuknya jauh  lebih sederhana.

Persamaan bentuk juga ditujukan pada bangunan monumental yang berfungsi sebagai sarana informasi dan ritual yang dalam arsitektur tradisional Bali disebut Bale Kulkul atau Bale kentongan,  apabila di Cina (Tiongkok) menara Lonceng, karena menggunakan lonceng sebagai sarana informasi ataupun ritual keagamaan. Beberapa entrance di daerah Cina/ Tiongkok seperti Gambar 5.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   Bale Kulkul di

Di Denpasar

 

 

 

 

 

 

 

Menara Lonceng

di Balai Menara Triagama Provinsi Shangxi

Gambar  5

Bale Kulkul & Menara Lonceng

Sumber : Widayati, 2004

          Untuk bangunan pemujaan seperti “Meru” yang ada di Bali juga diduga mendapat inspirasi dari bentuk Pagoda yang ada di Cina. Bentuk Meru bertumpang dan mengecil ke atas Pagoda juga serupa dalam fungsi dan makna sebagai bagunan pemujaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bangunan Meru                                di Besakih

   

 

 

 

 

 

 

 

 

Bangunan Pagoda

di Dunhuang, Cina

 

Gambar 6

Bangunan Meru & Pagoda

Sumber : Sulistyawati, 2004

Ragam Hias

Style atau corak ukuran lukisan relief hampir mirip atau serupa antara lain: lukisan pada plafon, patra mas-masan (prada Cina), patra Kuta Mesir, patra Cina dan Karang Sae yang ada pada ragam hias bangunan tradisonal daerah Bali, juga ada di beberapa bangunan di Tiongkok/Cina, namun dengan bentuk yang  lebih sederhana, seperti pada Gambar 7 di bawah.

 

 

 

 

 

 

 

 

            Ornamen Tiongkok yang menyerupai

Kuta Mesir  di  taman  pavilliun Prop.

Anhui, Tiongkok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Ornamen  Tiongkok  yang mirip atau           Patra Kuta Mesir & Mas-masan

Patra Mas-Masan                                         pada  apit lawang  di Tenganan

Gambar 7

Ornamen Kuta Mesir  &  Patra Mas-Masan

Sumber : Sulistyawati, 2004

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Patra Cina                    Ragam hias yang mirip          Karang Sae di Bali

Karang Sae di Museum

Istana Kuno, Beijing

 

Gambar 8

Patra Cina  &  Karang Sae

Sumber : Sulistyawati, 2004

IV. PENUTUP

4.1 Simpulan

Dari uraian pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan beberapa hal bersifa sementara sebagai berikut:

  1. kontak budaya lewat jalan damai atau perdagangan ini mampu menciptakan proses adaptasi budaya yang sehat dan manusiawi.
  2. karakteristik persamaan, keseimbangan dan keharmonisan dapat mendorongnya integrasi dan akulturasi.
  3. pengaruh budaya Cina termasuk arsitektur di dalamnya cukup besar pengaruhnya, namun bersifat pasif, artinya tidak menunjukkan peran langsung orang-orang Cina, tetapi berkat kreatifitas dan kemampuan improvisasi dan inovasi etnik Bali yang dikenal dengan kearifan lokal atau yang lebih super lagi disebut local genius.
  4. pemanfaatan dalam istilah lain adopsi budaya Cina tidak mutlak diserap seperti fungsi aslinya, tetapi diinterpretasikan (dimaknai) untuk memperkaya khasanah arsitektur tradisional Bali

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budihardjo, Eko. 1989. Jati Diri Arsitektur Indonesia, Alumni, Bandung.

Depdikbud. 1981-1982. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Denpasar

Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali, 1986,Rumusan Arsitektur Tradisional Bali. Hasil Selekta Arsitektur, Denpasar

Geriya, Wayan. 2008. Pola Hubungan Antar Etnis Bali dan Tionghoa dalam Dinamika Kebudayaan dan Peradaban, Integritas Budaya Tionghoa ke Dalam Budaya Bali. Universitas Udayana, Denpasar.

Koentjaraningrat. 1993. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Penerbit Jambatan, Jakarta.

Laurence G. Liu. 1997. Chinese Architecture, Academy Editions, London.

Mantra, Ida Bagus, 1996, Landasan Kebudayaan Bali, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar.

Pemda Tingkat I Bali. 1986. Sejarah Bali, Proyek Penyusunan Sejarah Bali, Denpasar.

Pitana, I Gede, dkk. 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Sebuah Ontologo. PT. Bali Post, Denpasar.

Putra, I Gusti Made, 2005, Pengetahuan Arsitektur Tradisional, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Dwijendra, Denpasar.

Sedyawati, Edi., 2006, Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sulistyawati, Made, 2008, Integrasi Budaya Tionghoa ke dalam Budaya Bali. Universitas Udayana, Denpasar.

Widayati, Naniek. 2004. Arsitektur Cina, Lembaga Penelitian Universitas Tarumanegara, Jakarta.

 

 

  1. 16 Februari 2014 pukul 14:06

    Reynolds Architecture takes pride in the
    relationships it has with the top fabricators, installers and manufacturers of everything from plumbing fixtures,
    widows, marble, ceramic tile, and custom cabinetry to name a few.
    It comes with a huge 9 cup work bowl, and is ideal for combining a great deal of ingredients at once.
    Since 1919, they have been giving homeowners and professional cooks
    alike great quality.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: