PENATAAN KAWASAN GERENCENG SEBAGAI PENGEMBANGAN CITY TOUR (WISATA KOTA) DI DENPASAR

oleh : Frysa Wiriantari

 ABSTRACT

City tour program fulfilment in Denpasar has determined Tukad Badung as a tourism object beside others such as Puri Jero Kuta, Pura Maospahit, Pemecutan Royal Palace, Satria Castle and the Museum of Bali. On the next progress, Banjar Gerenceng where the Badung river segment is available also educed as a city tourist development area.

The existence of Gerenceng area developments become a desicion reason for choising the title of “Penataan Kawasan Gerenceng sebagai Pengembangan Wisatan Kota (City Tour) di Denpasar”. the research problem is :”how could we arrage Gerenceng area within all its function inside which mean that the participation of the  city tour function wont’s eliminate the existing function before.

            Through functional quality, visual, environmental and spiritual  approach was inducted some planning concepts of city tourism, such as (i) the city physical elements, (ii) the conservation concept implementated by preservation, adatption, revitalization up to demolition as a strategy  for conservation actions.

            The area action  planning were hoped that doesn’t eliminate one of the available existing  function, but it can create a condusive space as settlemet, trading and city tourism development area.

 

I.      PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Obyek Wisata sejarah merupakan sebuah terobosan baru dalam usaha pemanfaatan kekayaan sejarah Indonesia khusunya Bali secara lestari, yaitu pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dengan cara pemanfaatan dan pengembangan kawasan konservasi melalui perpaduan kepentingan pelestarian alam dengan kepentingan kepariwisataan, yang keduanya saling mengisi dan berkaitan dalam peningkatan fungsi obyek-obyek wisata.

Melihat keadaan di lapangan di mana kota Denpasar sedang menapak menuju kota metropolitan, maka fasilitas rekreasi untuk warga dan wisatawan perlu disediakan. Fasilitas ini disamping untuk warga masyarakat kota sendiri, diharapkan dapat juga menjadi suatu kawasan wisata yang dilengkapi dengan objek-objek wisata budaya di dalamnya. Apalagi ditengah upaya menjadikan Denpasar sebagai kota berwawasan budaya dengan program wisata dalam kota (City Tour) seperti yang dicanangkan oleh Walikota Denpasar. Adanya program City Tour diharapkan akan  lebih mampu meningkatkan vitalitas yang ada ada kawasan, yang akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan.

Kualitas visual kawasan yang terbentuk melalui perwajahan bangunan cendrung untuk saling menonjolkan dirinya masing-masing, sehingga makin mengaburkan keberadaan objek sejarah. Akibatnya kawasan mengalami penurunan nilai sosio-kultural-psikologis.  Seperti yang dikatakan oleh Ketua Komisi B DPRD Denpasar, Putu Suparta Yuma, Jum’at 20 Desember 2002[1], bahwa pembangunan Bali sudah mengalami ketimpangan, salah satu dampaknya adalah carut-marutnya wajah kota dengan ruko, art shop, dan restoran dengan dalih pariwisata, seperti By Pass, Denpasar dan Kuta. Hal ini diakibatkan dari banyaknya bangunan yang melanggar sempadan jalan, peruntukan dan ruang terbuka hijau.

Dipilihnya Kawasan Gerenceng dalam hal ini karena Gerenceng merupakan  salah satu kawasan yang memiliki objek-objek yang mengandung nilai sejarah patut dilestarikan keberadaannya. Objek wisata sejarah yang berada di kawasan ini adalah adanya Pura Maospahit yang saat ini termasuk Objek Cagar Budaya Nasional, Pura Majelangu dan Puri Gerenceng, disamping itu kawasan ini termasuk kedalam kawasan konservasi dan revitalisasi sepanjang Tukad  Badung.  Keberadaan kawasan ini juga didukung dengan keberadaan Puri Jro Kuta (walaupun tidak termasuk dalam banjar Gerenceng). Yang dimana kesemuanya termasuk kedalam objek-objek yang diidentifikasikan kedalam kawasan konservasi dan revitalisasi kawasan Tukad Badung.[2]

Gerenceng yang merupakan kota lama, pada jaman kerajaan berfungsi sebagai pusat kesenian dan pendidikan sehingga banyak peninggalan berupa benda-benda seni terdapat dalam kawasan ini.

Selain itu Kawasan Gerenceng yang terdiri dari campuran berbagai fungsi/kegiatan, sangat memerlukan suatu upaya untuk mengembalikan citra kawasan yang telah tertelan oleh kehadiran bangunan-bangunan modern disekitarnya yang menenggelamkan nilai-nilai budaya yang dimiliki kawasan. Kawasan Gerenceng yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan permukiman, didalam lingkungan permukiman tersebut terdapat bangunan-bangunan tradisional dan objek-objek Cagar Budaya sehingga patut dilestarikan keberadaannya. Perkembangan bangunan-bangunan disekitarnya terutama bangunan perumahan dan pertokoan yang terjadi saat ini cendrung tidak memperhatikan lingkungan disekitar bahkan merusaknya, terutama terhadap bangunan-bangunan suci dan bersejarah sehingga timbulah erosi identitas budaya.  Rusaknya bangunan tersebut bisa mengakibatkan lenyapnya  nilai-nilai yang ada  yang merupakan warisan berharga dari nenek moyang.

Untuk mengatasi fenomena ini, kiranya sangat diperlukan adanya suatu program penataan terhadap lingkungan Kawasan Gerenceng yang mencakup upaya untuk mempertahankan nilai-nilai budaya kawasan melalui usaha konservasi beserta strategi implementasinya terhadap bangunan-bangunan kuno/bersejarah. Hasil dari program penataan ini diharapkan dapat dijadikan pedoman atau arahan penataan lingkungan di Kawasan Gerenceng. Guna membantu dalam mengendalikan dan mengarahkan perkembangannya, dalam mengantisipasi pembangunan sektor pariwisata kota Denpasar pada  khususnya, dan daerah Bali secara umum. Sehingga ungkapan pendek penuh makna “Pariwisata untuk Bali”,  bukan “Bali untuk Pariwisata” dapat diwujudkan.

 

1.2  Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, bisa dirumuskan  permasalahan sebagai berikut :

  1. elemen-elemen perkotaan apa sajakah yang perlu diprioritaskan dalam penataan kawasan Gerenceng ?
  2. kualitas visual yang bagiamanakah yang mampu menunjukkan Gerenceng sebagai kawasan berwawasan budaya ?

 

1.3   Batasan Penataan

Ruang lingkup yang diambil dalam mewujudkan Penataan Kawasan Gerenceng di Kota Denpasar, secara administratif berada di wilayah Kota Denpasar. Kawasan ini terdiri dari daerah permukiman dan perdagangan barang ataupun jasa.

Batas wilayah penataan adalah sebelah Utara adalah Jalan Kumbakarna, bagian Timur adalah jalan Tukad Badung, bagian Selatan adalah Jalan Gajah Mada dan Jalan Wahidin , bagian Barat adalah sejajar dengan bagian belakang Pura Maospahit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                         Peta Kawasan Perencanaan

Sumber : KP PBB Ditjen Pajak Prof. Bali (2003

II. PEMBAHASAN

Terdapat delapan elemen-elemen fisik kota yang menjadi perhatian di dalam penataan kawasan Gerenceng yaitu :

2.1 Tata Guna Lahan (Land Use)

a.    Peruntukan Lahan Makro Kawasan Gerenceng

Dalam kawasan  Gerenceng  dan sekitarnya yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Pemecutan Kaja, peruntukan lahan yang utama adalah untuk permukiman dan perdagangan regional.

Peruntukan hunian termasuk di dalamnya kawasan konservasi di mana pada kondisi sekarang perkembangan sektor ekonomi menyebabkan bertambah luasnya peruntukan lahan  komersial dan cenderung untuk terus merambah ke segala arah. Peruntukan komersial pada kawasan terpencar pada beberapa daerah tetapi yang paling menonjol adalah kawasan Jl. Gajah Mada, Sutomo dan Wahidin.

Kawasan penataan yang direncanakan sebagai kawasan konservasi dan kawasan pengembangan City Tour  belum memiliki fasilitas-fasilitas pendukung seperti area parkir dan fasilitas lainnya yang mendukung keberadaan kawasan City Tour.

b.    Peruntukan Lahan Mikro

Peruntukan jasa dan komersial merupakan peruntukan yang juga cukup menonjol pada kawasan perencanaan. Dalam perkembangannya keberadaan peruntukan ini makin lama makin meluas dan mengakibatkan beberapa peruntukan lain seperti hunian menjadi berubah. Desakan dari kebutuhan  akan adanya perluasan daerah komersial ini menjadikan beberapa tempat dalam kawasan berubah menjadi tidak  terkendali dan dalam kualitas visual yang tidak teratur. Perkembangan peruntukan yang kurang bervariasi ini akan mengakibatkan tidak optimalnya kegiatan di kawasan tersebut.

c.    Intensitas Pemanfaatan Lahan

Akibat tuntutan yang semakin meningkat maka intensitas bangunan menjadi bertambah. Penambahan intensitas bangunan relatif masih terkendali, namun demikian, masih perlu pengawasan yang cukup ketat terutama terhadap penampilan dan sosok bangunan yang akan memberi citra kawasan.

Komposisi intensitas penggunaan ruang pada wilayah penataan dapat dilihat dari dominasi jenis dan fungsi penggunaan tanahnya. Kawasan Gerenceng memiliki intensitas penggunaan tanah sebesar 77,8%  dengan dominasi penggunaan ruang kawasan adalah perumahan dan fasilitas penunjangnya, perdaganan dan akomodasi wisata. Sedangkan dilihat dari intensitas/kepadatan kegiatan yang tersebar sepanjang jalan utama dengan nilai KDB sebesar 50% – 75%.

2.1   Tata Bangunan (Building Form and Massing)

1.     Tipologi Bangunan

Dalam kawasan penataan Gerenceng  dan sekitarnya terdapat beberapa tipologi bangunan yang meliputi :

  1. bangunan/Objek Cagar Budaya Nasional yaitu Pura Maospahit, pura Majelangu dan pura lainnya masih berusaha dipertahankan, namun nampak belum dioptimalkan.
  2. bangunan asli pada daerah perumahan memiliki ketinggian 1-2 lantai beratap miring, tipe bangunan tunggal, dengan  kapling relatif kecil, langgam yang digunakan adalah arsitektur tradisional dengan bahan-bahan alami (beberapa masih tetap dipertahankan). Pada perkembangan selanjutnya langgam modern style lebih banyak muncul dan agak merusak kondisi kualitas lingkungan yang ada.
  3. tipologi bangunan perkantoran (perbankan) yang ada menggunakan gaya atau langgam eklektik antara langgam bali dengan langgam modern. Bentuk-bentuk bangunan perkantoran terutama kantor untuk peruntukan bank mengurangi nuansa Bali pada kawasan. Sedangkan untuk bangunan pertokoan khususnya yang terletak dipinggir jalan Gajah Mada terdiri dari 2-3 lantai dengan gaya ekletik.
  4. Tipologi Bangunan Hotel, beberapa bangunan hotel juga berkembang pada kawasan ini, walaupun dalam desain terlihat sudah mencoba mengadaptasikan skala hunian pada massa bangunannya, tetapi masih dapat dioptimalkan. Untuk langgam yang dipakai adalah langgam arsitektur tradisional (Hotel Sakura) dan modern style (hotel Puri Alit), mengingat pembangunannya adalah pada masa tersebut.

 

2.      Ketinggian Bangunan

Pada kawasan penataan, ketinggian bangunan beragam tergantung pada peruntukan dan penggunaan tanahnya, sehingga penggunaan tanah yang mendominasi yang akan memberi ciri pada skyline dan ciri penggunaan jumlah lantai bangunan.

Untuk bangunan yang mempunyai fungsi perumahan umumnya terdiri dari 1-2 lantai dengan ketinggian antara 5-10 meter, untuk fungsi perdagangan terutama yang terletak di pinggir jalan utama mempunyai jumlah lantai rata-rata 3 lantai dengan ketinggian rata-rata 10 meter.

Dari kenyataan  yang ada di lapangan  kondisi skyline pada tiap peruntukan lahan belum memberikan kesan estetis seperti terlihat pada gambar 3.6,  karena kurangnya mekanisme penataan ketinggian yang berorientasi pada keindahan visual dari skyline, terutama pada tiap-tiap simpul kegiatan. Penataan ketinggian bangunan akan dapat menghasilkn skyline yang baik, dapat dilakukan dengan cara meng-set back bangunan dimulai pada ketinggian tertentu.

 

 

 

 

Sykline pada Jalan Sutomo

3.   Sempadan Bangunan

Bangunan yang ada di kawasan penataan Gerenceng pada umumnya tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini bisa disebabkan oleh telah berdirinya bangunan itu sebelum aturan pemerintah ditetapkan. Untuk kelanjutannya, jika pemilik bangunan hendak membangun kembali bangunannya harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Demikian juga halnya dengan permukiman yang ada dipinggir Tukad Badung, dimana beberapa diantaranya masih ada yang tidak sesuai dengan aturan sempadan bangunan yang terletak di pinggir Tukad yaitu tiga meter dari tepi tanggul Tukad untuk yang berada di dalam kota.

4.   Telajakan dan Pagar

Seperti halnya sempadan bangunan, masih banyak bangunan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun ada kendala yang timbul terkait dengan adanya pura (bangunan suci) pada kawasan. Telajakan yang berfungsi sebagai bangunan suci akan dipertahankan, sedangkan yang diluar fungsi tersebut akan difungsikan kembali sebagai telajakan.

 

2.3 Sirkulasi dan Parkir (Circulation and Parking)

 

Jalan utama pada kawasan perencanaan adalah Jalan Sutomo, jalur satu arah dari Utara ke Selatan, Jalan Kumbakarna di sebelah Utara  Kawasan Gerenceng  yang menghubungkan Jl Kartini dengan Jl Sutomo. Di bagian selatan  Kawasan Gerenceng , Jalan Gajah Mada yang merupakan jalur satu arah dari Barat ke Timur dan di sebelah Timur  Kawasan Gerenceng  adalah Tukad Badung yang juga merupakan kawasan konservasi.

Sesuai dengan RDTR Pusat Kota Denpsar tahun 1996/1997-2006/2007 dan RTRW Kota Denpasar 2000, maka jalan-jalan yang berada di sekitar kawasan penataan termasuk ke dalam kategori:

  • Jalan Sutomo : Jalan arteri primer
  • Jalan Gajah Mada  : Jalan arteri skunder
  • Jalan Kumba-karna : Jalan kolektor skunder

 

Sistem jaringan jalan yang terdapat pada kawasan tidak terdapat jalur lambat ataupun jalur cepat, semua ruas jalan  memiliki fungsi yang sama.

Pada kawasan perencanaan terdapat jalur kendaraan umum yaitu yang bergerak dari arah Ubung ke Gajah Mada atauTegal, dan Tegal menuju Sanglah atau Kreneng. Namun sayangnya pada kawasan ini tidak terdapat halte yang akan dipergunakan sebagai tempat pemberhentian kendaraan umum, sehingga kendaraan umum yang menurunkan atau menaikan penumpang dan barang-barang cendrung berhenti sembarangan sehingga menganggu pengguna jalan lainnya.

Sedangkan jalan-jalan yang menghubungkan jalan utama dengan kawasan permukiman sangat sempit sehingga hanya cukup untuk dilalui kendaraan roda dua. Itupun harus berhari-hati jika ingin berpapasan dengan pengguna jalan lainnya.

Situasi Jalan Lingkungan Menuju

Permukiman Penduduk

Sumber : Dok pribadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.   Ruang Terbuka (Open Space)

Ruang terbuka hijau sangat kecil persentasenya dari luas keseluruhan Kawasan Gerenceng ini. Ruang terbuka hijau hanya terdapat pada telajakan yang berada dipinggir jalan Sutomo, itu pun sudah mulai beralih fungsi sebagai tempat parkir (karena sudah dipaving). Ruang terbuka lain yang ada di kawasan ini adalah sebuah daerah yang terletak di tepi Tukad Badung dan didaerah tersebut terdapat sebuah pura. Akses menuju lokasi tersebut dapat melalui dua jalan yaitu melalui jalan yang ada sepanjang Tukad Badung dan melalui gang yang berasal dari Jalan Sutomo. Dan sebuah open space yang berada di depan Puri Batan Kemuning yang juga merupakan milik puri. Namun sayangnya open space ini terkesan tidak terawat karena banyak rumput liar yang tumbuh di lahan tersebut.

2.   Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian Ways)

Jalur bagi pejalan kaki pada kawasan ini dapat dibagi menjadi 2 tipelogi yaitu :

  1. pedestrian penuh yang terletak disepanjang jalan utama yang berupa trotoar. Kondisi trotoar cukup baik namun sayangnya tidak dilengkapi dengan peneduh sehingga cukup panas jika dipergunakan pada waktu siang hari. Perlu diperhatikan kualitas visual dari trotoar, karena terdapat beberapa warna material yang tidak seragam.
  2. semi pedestrian yang juga merupakan jalur bagi kendaraan bermotor, terdapat pada jalan-jalan lingkungan.

Hal ini disebabkan karena  sempitnya jalan lingkungan tersebut ± 100-120 cm. Dilihat dari segi keamanan tentu kondisi ini sangat membahayakan karena tidak adanya batas yang jelas anatara jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki.

 

3.    Petanda (Signage)

Dalam kawasan perencanaan, wajah jalan sangat beragam. Kondisi tersebut memberikan kualitas visual yang relatif kurang teratur. Sistem informasi seperti papan petunjuk dan iklan tidak teratur, terutama pada daerah sekitar Jalan Sutomo dan Jalan Gajah Mada. Rambu, papan reklame, dan tanda petunjuk  nampak saling tumpang tindih, seperti adanya rambu petunjuk jalan yang tidak nampak karena tertutup oleh pohon, dan papan reklame serta papan nama toko yang terlalu mendominasi.

Mengenai tampilan visual, terdapat petanda yang telah sesuai dengan Perda Kota Denpasar No 29 tahun 2001 tentang pajak reklame yaitu dilengkapi dengan atap sirap, ijuk atau genteng. Namun ada juga petanda yang belum sesuai dengan Perda tersebut terutama  petanda-petanda komersial. Untuk mendapatkan kualitas visual yang baik, maka petanda tersebut akan diseragamkan bentuk dasarnya.

 

Petanda di Depan Pura Maospahit, Berbudaya Lokal Namun Tak  Terawat

Sumber : Dok Pribadi (2005)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.   Aktifitas Pendukung (Aktifity Support)

Aktifitas yang mendukung keberadaan dari kawasan ini adalah adanya kegiatan upacara agama yang disebabkan adanya beberapa pura disekitar kawasan tersebut. Selain itu adanya sektor perdagangan dan jasa seperti pertokoan dan kantor bank.

Aktifitas pendukung lainnya berupa kesenian sekaha Gong Pagulingan Gerenceng, dimana lokasi latihannya berada di Puri  Gerenceng, selain itu dengan adanya program City Tour yang dicanangkan oleh pemerintah, memberikan peluang bagi pelaku kegiatan budaya/kesenian yang ada untuk berpartisipasi dalam bentuk atraksi budaya dan juga berpeluang untuk menjajakan hasil kerajinan seni dan industri yang dihasilkan oleh masyarakat untuk menambah penghasilan masyarakat.

 

5.    Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial Masyarakat

Pada kawasan perencanaan tidak tersedia fasilitas-fasilitas pendukung. Fasilitas-fasilitas seperti fasilitas pendidikan, kesehatan , olah raga dan yang lainnya berada di wilayah desa. Namun ketidakadaan fasilitas tersebut tidak menyebabkan kemunduran atau terhanbatnya kegiatan masyarakat Gerenceng, karena fasilitas-fasilitas tesebut berada tidak terlalu jauh dari Kawasan Gerenceng (terletak dalam skala desa).

Sedangkan untuk perkantoran yang ada di kawasan ini adalah kantor Kepala Banjar, Balai Banjar dan Wantilan, serta perkantoran yang bergerak dalam bidang jasa perbankan. Untuk fasilitas perdagangan yang ada diantaranya adalah warung, toko/kios, restauran, serta jasa penginapan/hotel.

III. KESIMPULAN

Di dalam melakukan penataan terhadap Kawasan Gerenceng sebagao Pengembangan Wisata Kota (City Tour) di Denpasar, konsep pelestarian merupakan bagian pertama dari konsep penataan. Hal ini disebabkan karena di dalam kawasan penataan terdapat objek-objek yang memiliki niali sejarah yanglayak untuk dipertahankan keberadaannya. Upaya peledstarian objek-objek tersebut akan memberi pengaruh terhadap elemen-elemen fisik perkotaan lainya seperti intensitas pemanfaatan lahan, tata bangunan, sistem pencapaian , ruang terbuka dan juga jaringan utilitas.

 

3.1 Konsep Konservasi dan Preservasi

Dalam upaya Penataan Kawasan Gerenceng (di dalamnya terdapat obyek konservasi) sebagai Pengembangan Wisata Kota (City Tour) di Denpasar perlu ditetapkan beberapa sasaran konservasi yang tepat antara lain :

  1. mengembalikan citra kawasan sebagai kawasan budaya dan seni
  2. memanfaatkan peninggalan yang ada untuk menunjang kehidupan masa kini. berupa peninggalan sejarah maupun kebudayaan
  3. mengarahkan perkembangan masa kini dengan penyelarasan perencanaan masa lalu yang tercermin dalam pemanfaatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  4. menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan dalam wujud fisik.

 

3.2 Konsep Tata Guna Lahan (Land Use)

1. Konsep Peruntukan Lahan Makro

Untuk peruntukan lahan makro, yang dilakukan adalah upaya konservasi kawasan untuk mempertahankan makna dari bangunan dan mempertahankan fungsi yang ada, namun tidak menutup kemungkinan untuk adanya fungsi baru yang akan turut menunjang keberadaan bangunan tersebut seperti fungsi pariwisata. Disamping itu juga diupayakan untuk meningkatkan vitalitas kawasan dan menjalin keterkaitan yang lebih erat dari segi fungsi maupun dari segi visual kawasan antar berbagai fungsi di dalam kawasan dan menjalin keterkaitan fungsional dengan kawasan sekitarnya.

2.  Konsep Peruntukan Lahan Mikro

Pada peruntukan lahan mikro, untuk memberikan citra kawasan yang mampu menarik wisatawan perlu dilakukan tata ulang atau alih fungsi baik itu bangunan maupun ruang luar dengan memperhatikan konservasi kawasan termasuk pengendalian tata bangunan guna memperoleh manfaat fungsional dengan keadaan visual yang baik dan keserasian terhadap lingkungan sekitar memberikan citra kawasan sebagai objek dan kawasan wisata kota (City Tour). Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam tingkat konseptual dalam penatan adalah :

  1. konsep penetapan peruntukaan lahan berdasarkan potensi-potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan perencanaan kegiatan wisata di dalam kawasan.
  1. KDB yang ada, diusahakan tidak meningkat lagi untuk mengurangi dampat buruk kesehatan dan mencegah pandangan visual yang ada menjadi semakin buruk.

3.  Konsep Intensitas Pemanfaatan Lahan.

Peningkatan jumlah penduduk memberi dampak pada meningkatnya intensitas bangunan. Intensitas pemanfataan lahan adalah perbandingan jumlah luas lantai bangunan terhadap luas perpetakan kawasan perencanaan penataan. Intensitas peruntukan lahan erat hubungannya dengan konsep peruntukan lahan yang telah ditetapkan, terutama menyangkut berapa besaran ruang yang dibutuhkan, pemanfaatan lahan secara merata, dan menentukan kepadatan bangunan.

 

e.  Konsep Tata Bangunan

Untuk menghadirkan suatu fasade bangunan yang menarik digunakan sistem set back bagi bangunan yang berada di atas dua lantai (membentuk sudut lebih dari 27o dari as jalan). Selain akan memudahkan dalam pengaliran udara dan penerangan, set back bangunan ini juga akan menghasilkan sky line yang menarik.

f. Orientasi Bangunan

Orintasi bangunan pada kawasan masih mengacu budaya dan arsitektur tradisional Bali dengan orientasi bangunan terhadap sumbu kaja-kelod, kangin-kauh, natah, ke jalan maupun ke arah/tempat yang mempunyai potensi tertentu seperti mengacu pada ruang terbuka baik publik maupun private. Orientasi bangunan secara keseluruhan diharapkan untuk turut memberikan sumbangan bagi peningkatan kulitas fungsional, ekologis, sosial maupun visual ruang. Untuk bangunan permukiman, orientasi bangunan sesuai dengan Arsitektur Tradisional Bali menggunakan pola natah dengan orientasi ke dalam. Berpedoman kepada sumbu kaja-kelod dan kangin kauh). Pada bangunan fasilitas umum dan bangunan perdagangan   cendrung linier, orientasi ke jalan dengan tetap berpatokan pada orientasi  sumbu kaja-kelod dan kangin kauh.

Demikian juga halnya dengan bangunan penunjang fasilitas pariwisata berorientasi ke jalan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. Konsep Sistem Penghubung (Lingkage System)

Masyarakat Gerenceng, dengan mayoritas melakukan aktifitasnya di luar kawasan penataan  memerlukan sistem pergerakan dari tempat tinggal menuju tempat kerja maupun kegiatan sosial masyarakat. Adanya penambahan fungsi kawasan  sebagai daerah pengembangan City Tour, diharapkan tak mengganggu aktifitas sirkulasi yang telah ada sebelumnya. Sistem penghubung ini memerlukan suatu keadaan  yang mampu memberikan kenyamanan, keamanan dan kelancaran dalam menghubungkan satu kegiatan dengan kegiatan yang lain.

8. Konsep Sirkulasi Pejalan Kaki (Pedestrian Ways).

          Konsep sirkulasi pejalan kaki berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain adalah :

  1. konsep pejalan kaki dapat dibedakan atas sirkulasi pejalan kaki untuk penduduk dan wisata. Pejalan kaki adalah pemakai dominan yang ada di desa. Kegiatan jalan kaki ini dilakukan dalam kegiatan seharai-hari di dalam lingkungan desa baik kegiatan sosial, ekonomi, adat dan keagamaan. Faktor keamanan dan kenyamanan menjadi pertimbangan utama dalam penataan sistem dan bentuk sirkulasi pejalan kaki terutama bagi kegiatan yang berdekatan dengan jalan kendaraan.
  2. ditambahkannya unsur kegiatan pariwisata di Kawasan Gerenceng, memberikan penataan jalur pedestrian menjadi unsur yang penting untuk memberikan akses yang jelas dalam melakukan kegiatan wisata city tour. Penataan jalur pedestrian yang akan direncanakan ditekankan pada terciptanya keseimbangan antara jalur pejalan kaki dengan jalur kendaraan. Keseimbangan penggunaan elemen pedestrian untuk mendukung ruang publik yang menarik, memungkinkan kegiatan pencapain, pelayanan jasa dan kebutuhan pribadi berlangsung dengan optimal, dimana faktor keselamatan memegang peranan utama.
  3. menciptakan elemen-elemen pedestrian yang berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. Baik melalui peninggian trotoar dibandingkan dengan jalur kendaraan dan pembatasan dengan menggunakan elemen vegetasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pohon Sebagai Elemen Pelindung Terhadap Panas dan Hujan

    Sumber : RTBL By Pass Ngurah Rai, Denpasar Selatan 2001

    Perlindungan pejalan kaki dari pengaruh buruk cuaca terutama sengatan matahari dan hujan, untuk menjamin kenyamanan pejalan kaki. Untuk perlindungan pejalan kaki elemen yang dapat dipakai adalah pohon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. bahan yang dipakai untuk pedestrian adalah bahan yang antislip, memiliki daya tahan terhadap berbagai pengaruh alam, mudah pemeliharaannya, relatif murah, dan dari segi visual dapat mendukung keberadaan kawasan pengembangan wisata kota (city tour)
  2. penataan jalur penyebrangan dengan pembuatan zebra cross yang ditempatkan pada titik-titik yang aktifitasnya cukup tinggi terutama pada objek-objek city tour, dan dioptimalkan penggunaannya dengan tidak mengesampingkan aspek keamanaan, kenyamanan dan tidak menganggu kegiatan lain.
  3. areal yang terletak di depan pertokoan pada segmen Jalan Sutomo dibebaskan dari parkir dan diperuntukkan bagi jalur pejalan kaki dan dilengkapi dengan pohon sebagai perlindungan dari sinar matahari dan hujan. Seperti yang terlihat pada gambar berikut

 

Pedestrian Ways di Segmen Jalan Sutomo

Sumber : Ilustrasi pribadi

 

Pedestrian di Tepi Tukad Badung

Sumber : Ilustrasi pribadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9. Konsep Sirkulasi Kendaraan

Konsep yang dipakai untuk menata jalur kendaraan adalah ;

  1. penataan jalan harus mempu memberikan kenyaman, keamanan, kesenangan dan informasi pada setiap segmen pengalaman perjalanan seseorang.
  2. penataan jalan diarahkan untuk mampu memberikan kenyamanan fisik pada pedestrian, seperti kesejukan serta perlindungan terhadap angin dan hujan.
  3. penataan jalan tetap memperhatikan pencapaian kualitas pandangan visual yang berkesan manusiawi dengan rasio perbandingan dengan tinggi bangunan : lebar jalan adalah 1 : 2. Sudut pandang manusia adalah 27o, untuk mencapai rasio yang diinginkan pada jalan yang sudah ada dapat dipakai elemen vegetasi.
  4. menciptakan variasi yang dinamis pada penataan elemen vegetasi dan signage termasuk penerangan, guna menciptakan daya tarik visual dan memberikan pengalaman yang baik bagi pengendara yang melalui ara inti.
  5. persimpangan jalan merupakan persilangan (cross) sirkulasi kendaraan. Penggunaan material khusus pada bagian ini akan menyadarkan pengendara untuk lebih berhati-hati.
  6. penataan lampu penerangan dengan desain yang khas penting untuk ditampilkan di sini.

 

10. Konsep Parkir

Penataan parkir merupakan bagian yang menjadi satu kesatuan dengan penataan jalan, pedestrian dan ruang terbuka hijau. Pengamatan pada kawasan, tidak terdapatnya  fasilitas parkir kendaraan bagi penduduk kawasan., untuk itu dalam penataan disiapkan sebuah lahan parkir dengan memanfaatkan lahan kosong milik Puri Batan Kemuning. Sistem pengelolaannya adalah dengan sistem sewa dimana 60% dari harga sewa merupakan milik Puri Batan Kemuning, sedangkan sisanya sebesar masing-masing 20% diperuntukkan bagi perbaikan dan kas adat.  Untuk kendaraan wisatawan city tour, tidak diperlukan adanya tempat parkir khusus karena bus yang dipergunakan menunggu di depan Museum Bali.

Sistem parkir yang dipakai adalah parkir dengan sudut 90o dengan pertimbangan daya tampungnya lebih banyak. Sebagai perlindungan terhadap kendaraan yang parkir, maka dipakai beberapa pohon yang memiliki tajuk yang lebar untuk memberi naungan pada kendaraan yang parkir. Tanaman pelindung ini dapat memakai tanaman yang sudah ada atau dengan menanam baru dengan membuat pulau-pulau tanaman diantara kendaraan yang parkir dengan ratio 4 kendaraan : 1 tanaman.

11. Konsep Street Furniture

a.   Konsep Lampu Penerangan

Sesuai dengan namanya maka penerangan berfungsi untuk memberi cahaya pada malam hari. Ketinggian dan tipe penerangan dibuat agar dapat mengekspresikan karakter kawasan. Ketinggian lampu penerangan adalah antara 3 – 4 M untuk menerangi plaza, dan jalur pejalan kaki lebar. Untuk daerah yang lebih intim seperti jalan setapak, tempat duduk dan tanaman, digunakan ketinggian yang lebih rendah yaitu 1,5 – 2 M.

Penerangan difungsikan juga sebagai dekorasi yang terdiri dari floodlighting (lampu sorot) untuk bangunan khusus, dan festive lighting untuk hal-hal yang memerlukan efek spesial. Lampu penerangan diletakkan pada interval 25 m.

 

b.   Konsep Sistem Petanda (Signage)

Sekelompok petanda harus mempertimbangkan karakteristik daerah perancangan dan berdasarkan bentuk, warna dan penempatannya. Persyaratan umum dalam pembentukan tata informasi ini adalah:

1)     rasional dalam artian dari segi bentuk, ukuran dan tingginya tidak terlalu ekstrem untuk meminimalkan kekacauan visual kawasan serta memberikan karakter pada daerah perancangan.

2)     penempatan tata informasi tidak boleh menghalangi pandangan, jalan dan lalu-lintas. Ketidak teraturan bentuk, penempatan dan ukuran tata informasi dihindari. Tata informasi yang diprioritaskan adalah yang berskala pejalan kaki. Informasi bagi pejalan kaki ditempatkan pada posisi di mana pejalan kaki beristirahat tanpa mengganggu pejalan kaki yang lain.

3)     penempatan signage sebagai sistem informasi merujuk pada citra yang diinginkan, karakter dan tema yang akan diwujudkan pada kawasan.

4)     bentuk tata informasi harus sesuai dengan bentuk-bentuk arsitektur di sekitarnya untuk memberikan sense of place yang kuat bagi kualitas visual kawasan.

5)     faktor yang dijadikan pertimbangan dalam membuat tata informasi yaitu lebar area pandang 60°, ketinggian rata-rata pandangan ketika berdiri adalah 1,7 M, dan dalam posisi duduk adalah 1,3 M, sedangkan jika di dalam kendaraan, maka tinggi pandangan adalah 1,4M.

b. Konsep Ruang Terbuka (Open Space)

Ruang terbuka terbentuk oleh ruang-ruang disekitarnya dimana keberadaanya itu menjadi pusat orientasi bagi ruang-ruang disekitarnya. Ruang terbuka hendaknya menjadi bagian integral dari perencanaan kawasan, dan tidak merupakan akibat dari penyelesaian arsitekturnya.

Penataan ruang terbuka tidak dapat dipisahkan dari vegetasi sebagai elemen utama dalam penataan landscape. Konfigurasi penataan vegetasi yang mencerminkan kerakter khas lingkungan setempat akan menjadi elemen estetika dalam rangka peningkatan kualitas visual serta fungsional dan pada akhirnya akan mampu meningkatkan fungsi.

Open Stage yang Terpadu Dengan Keberadaan Pura Kresek, dan Sektor Informal

Sumber : Ilustrasi Pribadi

 

 

 

c. Konsep Pola Tata Hijau

Pola tata hijau dan penciptaan iklim mikro, merupakan unsur penting pada perencanaan ruang terbuka pada kawasan beriklim tropis. Untuk tata hijau pada kawasan dipakai tanaman tropis yang memiliki cabang dan daun yang rimbun. Tanaman tropis yang dipakai adalah tanaman lokal yang bagian-bagiannya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan upacara maupun pengobatan, sehingga keberadaannya selain menunjang estetika ruang luar juga bermanfaat bagi masyarakat. Pemilihan jenis pohon juga diharapkan memberikan tempat berteduh yang cukup nyaman dan aman bagi pengguna kawasan.

Untuk tanaman tepi jalan dipakai tanaman dengan ketinggian 4 meter dan memiliki percabangan dengan tinggi minimum 3 meter. Untuk tanaman peneduh bagi pedestrian ketinggian percabangan minimum adalah 2 meter. Penempatan dan penanaman jenis pohon diatur sesuai dengan warna bunga dan daun tanaman untuk mendapatkan karakter kawasan yang berlandaskan pada budaya Bali.

d. Pengamanan Tanaman

Pengaman tanaman digunakan untuk menjaga kesinambungan paving, melindungi dan sebagai ventilasi bagi akar tanaman, sebagai irigasi dan drainase air hujan. Ketinggian pengaman tanaman dapat disesuaikan dengan tempat duduk sebagai tempat istirahat sejenak yang dapat dilakukan pada tanaman di tempat parkir, di pedestrian dan di taman. Dimensi disesuaikan dengan diameter batang pohon dan bahan yang digunakan dapat menggunakan bahan beton, paving stone dan bahan alami seperti kayu atau papan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaman Tanaman Juga Berfungsi Sebagai Elemen Estetis

Sumber : Street Furniture h. 45

 

 

 

Selain itu pengamanan tanaman juga dapat dikombinasikan dengan penempatan tempat duduk. Dalam melakukan penataan tempat duduk, dilakukan pemilihan desain yang didasarkan pada pertimbangan kenyamanan, stabilitas, daya serap panas, penyaluran air, mudah pemeliharaannya dan kuat. Variasi yang dilakukan dalam pengorganisasian dalam pelengkap ruang luar adalah orientasi kedalam, keluar, kursi yang tidak permanen, menyatu dengan tanaman dan disesuaikan dengan kebutuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Pot Tanaman

Pot tanaman (planters) berfungsi sebagai tempat untuk menanam tumbuhan yang tidak ditanam secara langsung pada tanah. Pot tanaman juga dapat dipakai sebagai pembatas atau sebagai dinding. Dalam hal penempatan, pot tanaman merupakan bagian dari streetscape dan sama pentingnya dengan tempat duduk, tangga dan tempat sampah. Jenis pot yang dipakai adalah pot sementara, pot jangka panjang dan pot permanen. Jenis-jenis pot yang akan dipergunakan dapat dilihat pada gambar di bawah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA.

 

Ashihara, Yoshinobu ,1983,  Exsterior Design in Architecture, Surabaya.

Bapeda  Kodya Dati II Denpasar, 1996, Rencana Detail Tata Ruang Pusat Kota Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar di Kecamatan denpasar Barat dan Denpasar Timur Tahun 1996/1997-2006/2007, Denpasar.

Budiardjo, Eko., 1998, Percikan Masalah Arsitektur Perumahan Perkotaan, UGM Press, Yogyakarta,

Budiardjo, Eko.,1997, Arsitektur Pembangunan dan Konservasi, Djambatan Jakarta.

Budiardjo, dan Sidharta,  1989, Konservasi Bangunan Kuno Bersejarah di

          Surakarta, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Catanese, Anthony J dan Snyder, James C., 1989, Perencanaan Kota, Edisi kedua, Erlangga Jakarta.

Catanese, Anthony J, Snyder, James C dan Susongko (1986) Pengantar Perencanaan Kota, Erlangga Jakarta.

Ching, Francis DK dan Hanoto Adjie Paulus, 1993, Arsitektur Bentuk, Ruang dan Susunannya, Erlangga, Jakarta.

Cullen, Gordon ,1961, Townscape, Architectural Press, London

Danisworo, 1993, Urban Design : Pengertian, Permasalahan dan Konsep Penerapannya, Ditjen Cipta Karya, Jakarta

Dinas Pariwisata Kotamadya Dati II Denpasar, 1997, Kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat II Denpasar Dalam Bidang Pariwisata, Denpasar.

Dinas Tata Kota Denpasar ,2000, Informasi Tata Ruag Wilayah, Denpasar

Gallion, Arthur B dan Eisner, Simon,  1994, Pengantar Perancangan Kota, Desain dan Perencanaan Kota, Edisi kelima, Erlangga Jakarta,

Masisworo, M., 1995, Penataan Kembali Ruang Kota Melalui Proses Urban Desain, Jakarta

Mudra, I Ketut, 1999, Model Pelestarian Lingkungan Pusat Kota di Bali, Tesis Pasca Sarjana ITS, Surabaya

Hamid, Shirvani, 1985, Urban Design Process, Van Nostrand Reinhold Co, New York.

———-, Historis Building Conservation guide, A Refrence for State Government Agencies in South Australia. Australia.

Hedman, Richard and Jaszewski, Andrew ,1993, Fundamentals of Urban Design, American Planning association Press, Illnois.

Katz, Peter, 1994, The New Urbanism Townward an Architecture of Community, Mc Graw-Hill Inc, Washington.

Lynch, Kevin, 1960,The Image of the City, Cambridge, Massachusetts, The MIT Press, London.

Mangunwijaya, 1988, Wastu Citra, Gramedia Jakarta.

Moughtin, Cliff, 1992, Urban Design Street and Square, Butterwort- Heinemanin Oxfort

Oka Kartini, Ni Made, 1992, Unsur Budaya Majapahit pada Pola Hias Candi Bentar dan Candi Kurung Pura Maospahit Gerenceng, Udayana Denpasar

Prima.,1986, Demi Rumah Masa Depan, Pustaka PB3 ES, Indonesia

Prodeco Citra Prima, 2002, Bantek Perencanaan Penataan dan Revitalisasi Kawasan Tukad Badung, Denpasar

Pemerintah Kota Denpasar, 1999, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Denpasar, Denpasar

Pemerintah Kota Denpasar, 2000, Rencana Strategis Kota Denpasar, 2001-2005, Denpasar

Pemerintah Desa Pemecutan Kaja, 1997, Rencana Strategis Desa Pemecutan Kaja , 1997-200, Denpasar

Sutedjo, Ing Sowondo, 1982, Pencerminan Nilai Budaya dalam Arsitektur Indonesia, Djambatan Jakarta.

Spreiregen D, Paul , 1965, Urban Design : The Architecture of Town and Cities, Mc Graw-Hill Inc New York

Wiryomartono, A Bagoes P.,1995, Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

White, Edward T.,1986, Tata Atur Pengantar Merancang Arsitektur, ITB Bandung,

PT. Asa Citra Group, 2002, Ringkasan Eksekutif Identifikasi Kawasan Konservasi dan Revitalisasi Kawasan Sungai Badung

PT Prunajasa Bimapratama, 1998) Laporan Draff Final pekerjaan Penyusunan Dan Perencanaan Tukad Badung.

 

 


[1]  Harian Jawa Post Minggu 22 Desember 2002

[2]  PT Asa Citra Group (2002), Ringkasan Eksekutif Identifikasi kawasan konservasi dan   revitalisasi kawasan suangai Badung, Denpasar .

  1. 13 September 2012 pukul 16:23

    Very descriptive post, I enjoyed that a lot. Will there be a part 2?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: