PERWUJUDAN BANGUNAN CANDI TUNGGAL PEMUJAAN DI JAWA SEBAGAI SIMBOLISASI KEPALA DEWA BRAHMA

Oleh :

 I Nyoman Widya Paramadhyaksa[1]

ABSTRACT

 

            Candi (temple) is one of the classical sacred buildings which had been in existence in the Indonesian archipelago since pre-Islam era. It used to function as a temple or the grave of a king, a queen or his/her descendants in Java and Sumatera. It was built in various forms such as a large single upright block of stone (referred to as monolith) with a sacred chamber in the middle, a large massive monument (referred to as tugu), a complex of massive building, or as a monolith with stairs. Each type has several variants depending on where it was built, when it was built, and what its religious background concepts.

 

          This study discusses the symbolic meaning of the candi in Java which strongly correlates with the four-faced head of Lord Brahma (termed as caturmukha). The method of analysis applied in this study is the hermeneutic method with several approaches. The approaches employed are those which are related to the Hindu and Buddha cosmology and cosmogony, temple morphological approach as well as Hinduism and Buddhism approaches.

 

Keywords: Javanese candi, symbol, head of Lord Brahma, cosmology, Hindu &

                  Buddha.

 

ABSTRAK

         Candi merupakan salah satu perwujudan bangunan suci klasik nusantara dari zaman pra-Islam. Bangunan semacam ini dahulunya difungsikan sebagai bangunan kuil atau makam seorang raja, ratu, maupun keturunan raja di Jawa dan Sumatera. Candi memiliki beragam tipe bentuk bangunan, di antaranya menyerupai bangunan monolit dengan sebuah ruang suci di tengahnya, bangunan tugu pejal besar, kompleks beberapa massa bangunan, maupun bangunan monolit yang berundak-undak. Masing-masing tipe bangunan memiliki beberapa varian sesuai lokasi, masa pendirian, dan konsepsi keagamaan yang melatarbelakangi pendiriannya.

Tulisan ringkas ini membahas mengenai makna simbolis perwujudan bangunan candi Jawa yang memiliki korelasi yang kuat dengan konsepsi kepala Dewa Brahma yang memiliki empat wajah (caturmukha). Metode kajian yang diterapkan adalah metode hermenetik dengan menggunakan beberapa pendekatan dalam kajiannya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan adalah pendekatan atas konsepsi kosmologi dan kosmogoni Hindu dan Buddha, pendekatan atas morfologi bangunan candi, serta pendekatan atas ajaran agama Hindu maupun ajaran agama Buddha.

Kata kunci:

Candi Jawa, simbol, kepala Dewa Brahma, kosmologi, Hindu dan Buddha.

 

 

 

I. PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang

Candi dikenal sebagai salah satu perwujudan bangunan klasik dari zaman pra-Islam di Indonesia. Istilah candi lazimnya dikenal sebagai nama bangunan yang difungsikan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi Hindu atau Buddha masa lalu. Dalam pemahaman masyarakat umum, istilah candi juga dipergunakan untuk bangunan-bangunan non-ibadah peninggalan masa klasik di Jawa dan Sumatera.

Menurut Krorn, istilah “candi” berasal dari bahasa Sanskerta, “candika”, yang merupakan salah satu nama lain dari Dewi Durga sebagai dewi kematian atau dewi maut dalam ajaran Agama Hindu (Soekmono, 1995: 8). Adanya keterkaitan antara istilah “candi” dengan “candika” diperkirakan berkenaan dengan banyaknya temuan yang menunjukkan bahwa candi juga difungsikan sebagai bangunan makam bagi raja atau ratu yang telah dimuliakan, seperti Candi Kidal dan Candi Singasari di Jawa Timur. Bangunan-bangunan candi yang memiliki fungsi-fungsi lain antara lain Candi Bajang Ratu yang merupakan bangunan gerbang utama Kerajaan Majapahit, Candi Belahan dan Candi Tikus yang berfungsi sebagai bangunan pemandian, serta Candi Jalatunda yang dahulunya difungsikan sebagai bangunan pertapaan.

Perwujudan bangunan candi pemujaan sangat beragam. Secara umum perwujudannya dapat diklasifikasikan sebagai suatu kompleks bangunan candi seperti Candi Penataran di Jawa Timur maupun candi monolit seperti Candi Singasari dan Candi Jago di Jawa Timur. Di dalam area kompleks candi terdapat beberapa bangunan candi tunggal yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Hal semacam ini juga berlaku pada kompleks Candi Prambanan di Jawa Tengah yang terdiri dari bangunan Candi Siwa, Candi Wisnu, Candi Brahma, Candi Wahana, Candi Perwara, dan candi-candi pendukung lainnya. Selain kedua tipe bangunan seperti yang disebut di atas, bangunan-bangunan percandian di Indonesia juga memiliki berbagai varian bentuk lainnya, seperti berupa candi berundak-undak (Candi Borobudur, Jawa Tengah), candi stupa pejal (Candi Muara Takus, Riau), atau sebagai sebuah candi monolit yang pejal (Prasada di Pura Magening, Bali). Berbagai macam bentuk varian candi yang dikenal di Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan landasan ajaran agamanya, konsepsi-konsepsi dasar, masa pendirian, dan lokasi di mana candi tersebut berada. Tinggalan bangunan candi dapat dijumpai secara tersebar di berbagai lokasi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Di Pulau Bali, bangunan-bangunan klasik semacam candi disebut dalam istilah lokalnya sebagai bangunan pura, prasada, maupun pelinggih yang pada umumnya masih difungsikan hingga saat ini.

Gambar 1.

Candi SingasariGambar 2.

Candi Bajang RatuGambar 3.

Candi TikusSumber :

Survey, 2008Sumber:

Survey, 2006Sumber :

Survey, 2006

Gambar 4.

Candi BorobudurGambar 5.

Candi Muara TakusGambar 6.

Prasada Pura MageningSumber:

Survey Lapangan, 2007 Sumber :

http://candi.pnri.go.id Sumber:

Survey, 2009

1.2  Topik Permasalahan

Berkenaan tentang arsitektur candi di Indonesia, sangat banyak hal yang dapat dibahas sebagai bahan kajian kearsitekturan. Pada kesempatan ini diketengahkan suatu ulasan tentang aspek lain dari candi yang cukup menarik untuk dikaji. Artikel ringkas ini lebih fokus membahas mengenai konsepsi-konsepsi utama yang termuat pada perwujudan bangunan candi tunggal yang dahulunya difungsikan untuk kegiatan pemujaan di daerah Jawa.

1. 3  Metode Penelitian

Metode ulasan yang diterapkan dalam kajian ini secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu metode untuk pengumpulan data dan metode untuk proses analisis data.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: (a) studi kepustakaan tentang bangunan-bangunan candi tunggal tersebut dengan segala konsepsi yang melatarbelakanginya dan (b) observasi langsung terhadap beberapa bangunan candi tunggal yang difungsikan sebagai bangunan ibadah di Jawa.

Metode analisis atau pembahasannya menggunakan metode hermenetik. Metode ini pada dasarnya menitikberatkan teknik analisis berdasarkan penafsiran terhadap makna dari suatu objek atau simbol dengan mengkajinya secara menyatu dengan konteks di mana objek atau simbol tersebut berada. Dalam melakukan kajian ini dilakukan beberapa macam pendekatan, yaitu (a) pendekatan berdasarkan bentuk fisik bangunan candi dijadikan objek kajian, (b) pendekatan berdasarkan atas konsepsi-konsepsi dalam ajaran Hindu dan Buddha, dan (c) pendekatan atas pemahaman kosmologi dan kosmogoni yang dikenal dalam ajaran Hindu dan Buddha.

II. PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi tentang Candi Tunggal di Jawa yang Berfungsi sebagai

      Bangunan Pemujaan

Bangunan candi tunggal yang dimaksud dalam kajian ini memiliki karakteristik bentuk menyerupai bangunan tugu besar dengan ruang suci pada bagian badan bangunannya. Bangunan candi semacam ini lazimnya memiliki empat tampak bangunan yang hampir serupa dan menghadap keempat arah yang berbeda. Bangunan-bangunan candi yang termasuk jenis semacam ini di antaranya adalah Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu yang terdapat dalam kompleks Candi Prambanan, serta candi-candi tunggal seperti Candi Kidal, Candi Sewu, dan Candi Jawi. Bangunan candi-candi kelompok ini umumnya tersusun dari pasangan batu andesit hitam maupun bata merah.

1. Bagian-bagian utama bangunan candi tunggal

Bangunan candi tunggal memiliki beberapa bagian utama, yaitu bagian kaki atau dasar bangunan, bagian badan bangunan, dan bagian kepala atau atap bangunan. Bagian kaki bangunan candi tunggal lazimnya berlantai tinggi yang dilengkapi pahatan-pahatan ornamen pada dinding kaki bangunannya. Kaki bangunan candi tunggal dilengkapi pula dengan elemen tangga pada sisi tampak depan atau pada keempat sisi tampak bangunannya. Elemen tangga bangunan ini pada umumnya dilengkapi dengan figur sepasang binatang mitologis, makara yang mengapit seluruh anak tangga bangunan candi. Kaki bangunan candi juga dilengkapi dengan keberadaan elemen teras atau lorong yang mengelilingi ruang suci atau badan bangunan candi. Elemen teras ini disebut dengan istilah pradaksina patha (Anonim. 1981: 73). Ada kalanya pula bagian kaki candi memiliki beberapa tingkatan lantai yang juga memuat berbagai makna simbolis.

Pada bagian badan bangunan candi tunggal dapat ditemukan adanya sebuah atau beberapa ruang suci (garbhagrha) (cf. Anonim, 1985: 434). Ruang suci candi ini memiliki lubang pintu masuk utama yang terdapat pada bagian depan bangunan. Pada bangunan Candi Siwa Prambanan, misalnya, terdapat empat buah ruang suci dengan empat buah pintu masuk yang menghadap keempat arah yang berbeda. Di dalam keempat ruang suci ini ditempatkan arca Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, Ganesha, dan Durga (Anom, 1991: 60) (lihat gambar 8). Pada beberapa candi ada kalanya pula dijumpai badan bangunan candi tunggal yang pejal dan tidak memiliki ruang suci sama sekali, seperti Candi Muara Takus di Riau.

Bagian atap bangunan candi tunggal lazimnya memiliki beberapa tingkatan dengan puncak tertingginya dihiasi ornamen berupa lingga, rátna, maupun stūpika.

Arca Siwa Maha-

dewa

Arca

Ganesha

Arca

Durga

Gambar 7.

Bagian-Bagian Candi Tunggal JawaGambar 8.

Denah Candi Siwa, Prambanan Sumber: analisis, 2009Sumber: analisis, 2010

2. Perbedaan bentuk bangunan candi tunggal Hindu dan candi tunggal Buddha

Bangunan-bangunan candi pemujaan di Jawa dibangun berdasarkan konsepsi ajaran agama Hindu, Buddha, atau sinkretisasi keduanya (Siwa-Buddha). Perbedaan ketiga bangunan candi yang berdasarkan landasan tiga agama ini dapat ditelusuri dengan mencermati wujud beberapa elemen penting yang terdapat pada bangunan candi yang bersangkutan. Bangunan-bangunan candi tunggal Hindu dapat dikenali dengan adanya relief-relief cerita Hindu pada badan bangunannya, adanya arca-arca dewa Hindu di dalam ruang sucinya, serta terdapatnya ornamen lingga atau rátna pada puncak bangunannya. Candi tunggal beraliran Buddhis ditandai dengan keberadaan relief-relief Tantri pada badan bangunan, adanya arca Buddha atau dewa-dewi Buddha dalam ruang suci, dan keberadaan ornamen stūpika di puncak atap bangunannya. Candi tunggal beraliran Siwa-Buddha menggunakan elemen-elemen Hinduistis dan Buddhis secara bersama. Candi-candi tunggal yang termasuk kelompok bangunan ini adalah bangunan-bangunan candi dalam kompleks Candi Prambanan (cf. Anonim, 1989: 20). Di dalam ruang-ruang suci bangunan candi utama dapat dijumpai adanya arca-arca Hinduistis, akan tetapi pada bagian puncak atap bangunan terdapat ornamen rátna Hindu yang menyerupai bentuk stūpika Buddha. Selain dari pada itu, kompleks bangunan Candi Prambanan juga ditata menyerupai pola penataan mandala dalam ajaran Buddha (cf. Jordaan, 1993: 23).

Gambar 9.

Candi PrambananGambar 10.

Puncak

Candi PrambananGambar 11.

Pola Mandala pada

Denah Candi PrambananSumber: survey, 2008Sumber:survey, 2009Sumber: http://files.myopera.com

3. Perbedaan bentuk bangunan candi tunggal di Jawa Tengah dan di Jawa Timur

Dalam sejarah perkembangan arsitektur candi di Jawa, tercatat adanya dua periode perkembangan seni arsitektur candi. Periode pertama dikenal dengan nama periode Jawa Tengah yang berlangsung pada abad 8 – abad 10 Masehi (Santiko, dkk.. 1995: 108). Pada masa ini banyak dibangun candi-candi besar di wilayah Jawa Tengah, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Periode ini selanjutnya digantikan oleh periode Jawa Timur yang berlangsung pada abad 11 – abad 15 Masehi (Santiko, dkk.. 1995: 108). Pada rentang periode Jawa Timur dibangun candi-candi dengan karakter yang berbeda dengan karakter candi-candi Jawa Tengah. Candi-candi yang dibangun dalam periode ini lebih banyak berada di wilayah Jawa Timur, seperti Candi Jago, Candi Penataran, dan Candi Kidal.

Candi-candi yang dibangun pada periode Jawa Tengah umumnya berukuran lebih besar, memiliki karakter bangunan lebih ramping, dan memiliki gaya dan teknik pahat bangunan menyerupai gaya dan teknik pahat bangunan di India. Bangunan candi periode Jawa Timur berukuran lebih kecil, memiliki proporsi badan bangunan lebih ramping, dan menggunakan bahan bangunan dan teknik pengerjaan yang sudah disesuaikan dengan karakter lokal Indonesia. Seni ragam hias pada candi periode Jawa Timur juga telah mengadopsi langgam lokal, seperti adanya bentuk figur tokoh lebih menyerupai sosok-sosok wayang Jawa masa kini pada relief-reliefnya.

Candi-candi periode Jawa Tengah dan periode Jawa Timur juga dapat dibedakan berkenaan dengan relief kedok wajah raksasa yang terpahat di atas lubang pintu masuk ruang sucinya masing-masing. Relief kedok wajah raksasa pada candi periode Jawa Tengah disebut dengan nama kala. Ornamen ini berwujud pahatan kepala raksasa tanpa rahang bawah (Anonim, 2002: 122). Adapun relief kedok wajah raksasa pada Candi Jawa Timur adalah dinamai banaspati. Ornamen ini berwujud pahatan wajah raksasa yang lengkap dengan rahang atas dan rahang bawahnya (Asmito. 1992: 97).

Gambar 14. Ornamen Kala

pada candi di

Jawa Tengah Gambar 12.

Candi Periode

Jawa TengahGambar 13.

Candi Periode

Jawa TimurGambar 15.

Ornamen Banaspati

pada candi di Jawa TimurSumber:

survey, 2007Sumber:

survey, 2008Sumber:

survey, 2008

4. Uraian Singkat tentang Konsepsi-konsepsi yang Melandasi Perwujudan Candi

Tunggal di Jawa

Bagian ini akan memaparkan hal-hal yang berkenaan dengan konsepsi-konsepsi yang mendasari perwujudan candi tunggal di Jawa.

a. Konsep empat tampak bangunan candi yang serupa

Candi tunggal di Jawa lazimnya memiliki empat buah tampak bangunan yang serupa pada keempat sisinya. Pada candi-candi tunggal dalam kompleks Candi Prambanan, keempat tampak bangunannya terlihat sangat serupa dan masing-masing menghadap empat arah yang berbeda.

Konsep empat tampak bangunan yang serupa dan menghadap keempat arah berbeda ini memiliki korelasi dengan konsepsi empat wajah serupa yang dimiliki gunung mitologis utama dalam ajaran Agama Hindu dan Buddha, yaitu Gunung Meru. Gunung Meru diyakini sebagai pusat alam semesta yang menjadi tiang utama penopang seluruh tingkatan kehidupan di alam semesta (cf. Nair, 2007: 88). Gunung Meru juga dijadikan ilham bagi segala bentuk bangunan suci untuk umat Hindu dan Buddha di seluruh dunia, termasuk bangunan-bangunan candi di Indonesia. Keempat wajah Gunung Meru masing-masing menghadap ke arah utara, timur, selatan, dan barat (cf. Lopez, 2008: 43).

Konsep empat wajah yang serupa pada bangunan candi tunggal di Jawa juga berkaitan dengan konsepsi kosmogoni dalam Hindu dan Buddha. Alam semesta dalam proses penciptaannya digambarkan bersumber dari satu titik utama yang kemudian menyebar berkembang keempat arah utama; utara, timur, selatan, dan barat. Gambaran kosmogoni seperti di atas disimbolisasikan sebagai empat wajah Dewa Brahma yang masing-masing menghadap ke empat arah yang berbeda. Brahma yang dalam ajaran Hindu diposisikan selayaknya manifestasi Tuhan sebagai dewa pencipta alam semesta. Dewa Brahma dikenal pula dengan nama Sanghyang Caturmukha, yaitu dewa yang memiliki empat wajah (cf. Turner dan Coulter, 2001: 106, Paramadhyaksa, 2009: 49).

Gambar 16.

Empat Wajah Gunung MeruGambar 17.

Denah Empat Sama Sisi

Candi BorobudurGambar 18.

Empat Wajah

Dewa Brahma Sumber: Snodgrass, 1985: 39Sumber: analisis, 2009Sumber: http://upload.wikimedia.org

b. Konsep tentang ujung atap bangunan candi

Bangunan candi tunggal di Jawa memiliki bentuk dasar atap limas yang memiliki puncak tertinggi yang berhiaskan ornamen utama yang khusus. Atap bangunan candi tunggal merupakan simbolisasi bagian puncak Gunung Meru yang bertingkat-tingkat. Setiap tingkatan puncak gunung suci ini menyimbolkan tingkatan-tingkatan alam sorga, tempat jiwa-jiwa suci alam semesta bersemayam. Pada puncak tinggi Meru, terdapat sorga tertinggi yang paling disucikan sebagai sebuah kerajaan para dewa yang diperintah Dewa Indra (Dowson, 2004: 208, cf. O’flaherty, 1997: 206). Gambaran kerajaan sorga utama ini pada perwujudan candi-candi tunggal di Jawa disimbolisasikan sebagai ornamen rátna atau lingga pada bangunan candi Hinduistis dan ornamen stūpika pada bangunan-bangunan candi Buddhis (Paramadhyaksa, 2009b: 4).

c. Konsep tentang ruang suci candi

Ruang suci candi memuat makna simbolis sebagai perut ibu alam semesta, rongga mulut Dewa Brahma, dan gua pada badan gunung.

Perwujudan candi tunggal memiliki makna simbolis sebagai miniatur alam semesta (makrokosmos). Ketiga tingkatan alam semesta – yang dikenal dalam ajaran Hindu dengan sebutan Triloka dan dalam ajaran Buddha dengan istilah Tridhatu – digambarkan sebagai tiga tingkatan bangunan candi. Bagian kaki candi sebagai simbol alam bawah (alam manusia), badan candi sebagai simbol alam tengah (alam peralihan), dan kepala candi sebagai simbol alam atas (alam sorga) (cf. Phuoc, 2010: 291, Turner, 2001: 293). Dalam hal ini ruang suci candi (garbhagrha) yang terdapat di bagian tengah candi memuat makna simbolis sebagai ruang yang mempersatukan manusia (dari alam bawah) dengan Tuhan (di alam atas). Memasuki ruang suci ini dapat dimaknai selayaknya memasuki perut ibu alam semesta untuk bersatu memusatkan pikiran dengan penguasa alam semesta (Tuhan). Ke luar dari garbhagrha dapat disetarakan sebagai layaknya proses kelahiran manusia untuk kedua kalinya yang membebaskannya dari kebodohan dan kegelapan pikiran akibatnya kuatnya daya tarik alam duniawi (Proyek Penelitian Purbakala Jakarta, 1985: 410).

Berkenaan dengan makna simbolis bangunan candi tunggal sebagai kepala empat wajah Dewa Brahma, garbhagrha menjadi dapat dimaknai sebagai rongga mulut Sanghyang Caturmukha itu sendiri. Empat sisi serupa bangunan candi merupakan empat wajah Brahma yang masing-masing memiliki lubang mulut dan rongga mulut yang disimbolisasikan sebagai lubang pintu dan ruang suci candi. Memasuki garbhagrha dapat disetarakan sebagai memasuki rongga mulut sang dewa pencipta alam semesta itu dan bersatu dengan suluruh isi jagat raya. Konsepsi ini sangat sejalan dengan mitologi yang menggambarkan suatu penggalan peristiwa pada saat Dewa Wisnu yang memasuki rongga mulut Dewa Brahma dan melihat seluruh alam semesta beserta segala isinya (cf. Kramrisch, 1994: 162). Empat lubang mulut Brahma juga dilukiskan sebagai lubang yang melahirkan keempat macam kitab suci Weda dengan segala macam makhluk hidup pengisi seluruh alam semesta (cf. Dhavamony, 1982: 11-12, Muir, 1868: 12).

Berkenaan dengan makna candi sebagai simbolisasi Gunung Meru, garbhagrha menjadi dapat pula diartikan sebagai simbol gua di daerah badan gunung sebagai ruang yang terbentuk secara alamiah, tersembunyi, dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas kedunianiawian. Gua pada masa lalunya dipandang sangat ideal dalam melakukan persembahyangan dan semadi (cf. Kramrisch, 1976: 162, Paramadhyaksa, 2009a :57).

Gambar 19.

Tangga di Candi PrambananGambar 20.

Figur Makara Pengapit Anak Tangga CandiGambar 21.

Candi Kidal dengan

Satu TanggaSumber:

Survey, 2009Sumber:

Survey, 2007Sumber: Survey, 2008

d. Konsep tentang tangga candi

Tangga bangunan candi tunggal memiliki bentuk dan jumlah yang bervariasi. Pada beberapa bangunan candi, seperti Candi Kidal dan Candi Jajaghu, hanya akan ditemukan adanya sebuah jajaran anak tangga yang terdapat pada sisi depan bangunan. Pada bangunan-bangunan candi utama dalam kompleks Candi Prambanan, terdapat empat buah tangga bangunan candi yang masing-masing berada pada bagian depan, bagian belakang, dan kedua bagian samping bangunan candi. Seluruh tangga candi difungsikan sebagai jalur sirkulasi manusia menuju ruang suci candi. Pada bagian railing candi lazimnya dihiasi figur sepasang makara yang mengapit badan tangga candi. Tangga candi memiliki makna simbolis sebagai jalan penguhubung antara alam manusia dan alam peralihan, serta sebagai jalan bagi manusia untuk bersatu dengan Sang Penciptanya.

5.  Tiga Makna Simbolis Candi

Berdasarkan uraian tentang beberapa konsepsi candi yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, pada penjelasan berikut ini dipaparkan tiga makna simbolis utama yang termuat pada perwujudan bangunan candi monolit di Jawa.

a. Candi sebagai simbolisasi tiga tingkatan alam semesta

Dalam ajaran Hindu dan Buddha dikenal adanya konsepsi yang menjelaskan tentang adanya tiga tingkatan alam semesta. Ketiga tingkatan tersebut masing-masing terdiri dari (a) tingkatan alam bawah (Bhurloka, Kamadhatu) sebagai tempat hidup manusia, (b) tingkatan alam peralihan (Bhuvarloka, Rupadhatu) sebagai alam menengah, dan (c) tingkatan alam atas (Svarloka, Arupadhatu) sebagai sorga yang menjadi tempat bersemayamnya para dewa dan roh-roh suci alam semesta. Ketiga tingkatan alam tersebut disimbolisasikan pada bangunan-bangunan candi sebagai bagian kaki candi (dasar bangunan), bagian badan candi (ruang suci, garbhagrha), dan bagian kepala candi (atap bangunan yang memiliki sebuah ornamen khusus di puncaknya).

b. Candi sebagai simbolisasi Gunung Meru

Bangunan candi juga memuat makna simbolis sebagai tempat penyatuan pikiran antara manusia dengan Tuhan. Candi pemujaan di Jawa pada masa lalunya juga dijadikan sebagai tempat persembahyangan dan tempat umat manusia dari alam bawah (dunia) menghubungkan dirinya dengan para dewata yang bersemayam di alam atas (sorga). Pemahaman semacam ini sangat sejalan dengan konsepsi tentang keberadaan sebuah gunung kosmik utama dalam ajaran Hindu dan Buddha yang dinamai dengan Meru. Gunung mahasuci alam semesta ini berfungsi sebagai penyangga seluruh jagat raya, tempat hunian umat manusia, dewata, dan berbagai makhluk di alam semesta. Meru juga digambarkan berperan sebagai tiang penghubung antara alam manusia (alam bawah) dan alam dewata (alam atas).

c. Candi sebagai simbolisasi kepala Dewa Brahma

Empat wajah serupa bangunan candi tunggal di Jawa juga memiliki korelasi dengan konsepsi empat wajah Gunung Meru yang masing-masing menghadap ke empat arah utama; utara, timur, selatan, dan barat. Konsepsi empat wajah candi dengan empat buah ruang suci (garbhagrha), empat buah pintu masuk, dan empat buah elemen tangga pada masing-masing sisinya itu juga memiliki kesesuaian dengan empat wajah Dewa Brahma (Sanghyang Caturmukha). Keempat wajah dewa pencipta alam semesta ini dalam berbagai literatur juga dikaitkan dengan proses lahirnya empat kitab suci Weda, yaitu Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda (Sullivan, 1999: 86). Berkaitan dengan konsepsi empat wajah Brahma ini, setiap umat yang memasuki ruang suci (garbhagrha) candi dapat dimaknai sebagai melangkah ke dalam rongga mulut Dewa Brahma dan bersatu dengan alam semesta. Keluar dari ruang garbhagrha dapat disetarakan sebagai keluar dari mulut Sang Pencipta dan terlahirkan suci kembali di alam semesta ini.

Meskipun konsepsi kepala Dewa Brahma ini dikenal dalam seni arsitektur kuil Hindu dan Buddha India, di Jawa konsepsi ini tidak begitu popular. Perwujudan bangunan candi monolit Jawa yang tidak selalu memiliki empat ruang suci (garbhagrha), empat lubang pintu, dan empat jalur tangga pada keempat sisi bangunannya secara nyata, sepertinya “ikut” berperan mengaburkan eksistensi konsepsi kepala Dewa Brahma ini pada bangunan-bangunan candi.

III. PENUTUP.

3.1 Simpulan

Bangunan candi pemujaan di Jawa kaya dengan berbagai konsepsi yang melatarbelakangi perwujudannya. Secara umum konsepsi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua tipe konsepsi, yaitu konsepsi utama (grand concept) yang menjiwai perwujudan bangunan secara keseluruhan dan konsepsi pendukung yang lebih banyak membahas mengenai perwujudan-perwujudan ornamen, arca, dan berbagai elemen pada candi lainnya. Tulisan ini pada satu sisinya menghasilkan simpulan tentang keberadaan konsepsi tiga tingkatan alam semesta dan konsepsi Gunung Meru yang diterapkan pada bangunan-bangunan candi. Sisi lain dari kajian ini menunjukkan adanya sebuah konsepsi utama lainnya yang termuat pada berwujudan bangunan candi di Jawa. Candi Jawa – seperti juga kuil-kuil Hindu dan Buddha di banyak negara – dapat dinyatakan pula sebagai simbolisasi wujud kepala Dewa Brahma sebagai dewa pencipta alam semesta yang memiliki empat wajah serupa. Empat rongga mulut dan empat lubang mulut pada masing-masing wajah Sanghyang Caturmukha dapat disetarakan dengan empat buah ruang suci dan empat buah lubang pintu yang masing-masing terdapat pada keempat sisi bangunan candi. Perwujudan candi semacam ini sangat jelas terlihat pada Candi Siwa Prambanan, Jawa Tengah.

Perlu ditambahkan pula di sini bahwa perwujudan bangunan candi merupakan hasil sinkretisasi dari berbagai konsepsi yang beragam dan saling tumpang tindih. Dalam hal ini para sarjana maupun peneliti sangat wajib memiliki pemahaman dasar yang kuat, mandalam, dan bersifat holistik untuk dapat mengartikan setiap makna simbolis yang termuat dalam perwujudan berbagai bangunan candi di Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Anom, I Gusti Ngurah. 1991. Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala.   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Anonim. 1981. Kamus Istilah Arkeologi. Ayatrohaedi (ed.)., Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta

Anonim. 1985. Pertemuan Ilmiah Arkeologi III (PIA III), Ciloto, 23-28 Mei 1983: Kumpulan Makalah. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Anonim. 1989. Pemugaran Candi Brahma, Prambanan, Candi Sambisari, Taman Narmada, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Anonim. 2002. Mask: the Other Face of Humanity: Various Visions on the Role of the Mask in human Society. Quezon City: Rex Bookstore, Inc..

Asmito. 1992. Sejarah Kebudayaan Indonesia, IKIP Semarang Press, Semarang.

Dhavamony, Mariasusai. 1982. Classical Hinduism. Editrice Pontificia Università Gregoriana, Roma.

Dowson, John. 2004. A Classical Dictionary of Hindu Mythology, and Religion, Geography, History, and Literature. Asian Educational Services, New Delhi, India.

Jordaan, Roy E. 1993. Imagine Buddha in Prambanan: Reconsidering the Buddhist Background of the Loro Jonggrang Temple Complex. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Rijksuniversiteit te Leiden.

Kramrisch, Stella. 1976. The Hindu Temple, volume II. Delhi: Montilal Banarsidass.

Kramrisch, Stella. 1994. The Presence of SivaMythos: The Princeton/Bollingen Series in World Mythology Series Mythos, Princeton University Press, New Jersey, USA.

Lopez, Donald S. 2008. Buddhism & Science: A Guide for the Perplexed Buddhism and Modernity, University of Chicago Press, Chicago, USA.

Muir, John. 1868. Original Sanskrit Texts on the Origin and History of the People of India, Their Religion and Institutions: The Vedas: Opinions of Their Authors and of Later Indian Writers on Their Origin, Inspiration, and Authority, Trübner, London

Nair, Shantha N. 2007. The Holy Himalayas. Pustak Mahal, Delhi, New Delhi

O’flaherty, Wendy Doniger. 1980. The Origin of Evil in Hindu Mythology. University of California Press, Los Angeles, USA.

Paramadhyaksa, I Nyoman Widya. 2009a. “Concepts of Balinese Meru. Kyoto: Kyoto Institute of Technology (disertasi belum diterbitkan).

Paramadhyaksa, I Nyoman Widya. 2009b. “Pemaknaan Ornamen Murdha padaArsitektur Tradisional Bali” dalam Jurnal Info-Teknik, Volume 10 No.1, Juli 2009. Banjarbaru: Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat.

Phuoc, Le Huu. 2010. Buddhist Architecture, Grafikol, Chicago.

Proyek Penelitian Purbakala Jakarta (Indonesia), 1985. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta (Indonesia, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Indonesia). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (IndonesiaPertemuan Ilmiah Arkeologi III (PIA III), Ciloto, 23-28 Mei 1983: Kumpulan Makalah. Proyek Penelitian Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Santiko, Hariani, dkk.. 1995. Kirana: Persembahan untuk Prof. Dr. Haryati Soebadio, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta.

Snodgrass, Adrian. 1985. The Symbolism of the Stupa, Southeast Asia Program, 120 Uris Hall, Cornell University, Ithaca, New York.

Soekmono, R. 1995. The Javanese Candi: Function and Meaning. BRILL, Leiden:

Sullivan, Bruce M.. 1999. Seer of the Fifth Veda: Kr̥ṣṇa Dvaipāyana Vyāsa in the Mahābhārata. Motilal Banarsidass Publ., Delhi

Turner, Patricia dan Coulter, Charles Russell. 2001. Dictionary of Ancient Deities. Oxford University Press US, New York.

Sumber-sumber dari internet:

http://candi.pnri.go.id, diakses pada tanggal 11 Juni 2010.

http://files.myopera.com, diakses pada tanggal 11 Juni 2010.

http://upload.wikimedia.org, diakses pada tanggal 11 Juni 2010.


[1] Staf pengajar di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: